Finnews.id – TEKNO Ponsel pintar yang baru saja diluncurkan oleh Trump Mobile, T1 Phone, dikaitkan dengan kebocoran data massal.

Data yang bocor tersebut melibatkan informasi pribadi sensitif milik para pembeli kloter pertama, termasuk mereka yang telah membayar deposit sebesar USD100 (sekitar Rp1,6 juta) untuk mengamankan unit T1 mereka.

Setelah sempat bungkam, Trump Mobile akhirnya memberikan klarifikasi kepada media teknologi TechCrunch yang bagi sebagian besar masyarakat tak logik atau tak masuk akal.

Trump Mobile berdalih bahwa masalah ini dipicu oleh penyedia platform pihak ketiga (kemungkinan besar operator seluler) yang menyokong “operasional tertentu dari Trump Mobile.”

Juru bicara perusahaan bersikeras menegaskan bahwa tidak ada peretasan yang terjadi pada jaringan, sistem, atau infrastruktur internal Trump Mobile.

Namun, pernyataan selanjutnya justru memancing kegeraman publik: mereka mengaku masih mengevaluasi apakah perlu atau tidak mengabari para pelanggan yang datanya telah tersebar.

Mengapa Sikap Trump Mobile Dianggap Tak Layak Dibeli

Mari kita bedah situasinya: nama lengkap, alamat email, alamat rumah, nomor ponsel, hingga nomor identitas pesanan T1 Phone milik pelanggan saat ini sudah tersebar di internet.

Di tengah situasi genting tersebut, bagaimana bisa sebuah perusahaan masih bingung memikirkan perlu tidaknya memberi tahu korban? Apakah ini standar pelayanan dari perusahaan yang membawa nama besar seorang Presiden Amerika Serikat?

Pada akhirnya, tanggung jawab audit keamanan database dan platform tetap berada di tangan Trump Mobile sebagai penyedia utama. Melempar kesalahan ke pihak ketiga tidak akan menyelesaikan masalah.

Dalam dunia manajemen krisis (PR Management 101), transparansi adalah kunci utama. Konsumen yang telah melakukan pre-order dan mendapati data pribadi mereka tersebar di jagat maya seharusnya sudah menerima notifikasi langsung dari Trump Mobile sejak hari pertama kasus ini mencuat.

Banyak pengguna yang sudah terlanjur kecewa memberikan ulasan negatif dan menilainya sebagai smartphone paling buruk.