Saya dua kali ke Istana Mini. Waktu pertama datang, di sore hari, saya sulit memotret: ada penduduk yang bakar sampah dengan asap tebal masuk halaman istana.
Besoknya, sebelum matahari terbit saya ke sana lagi: pasti tukang bakar sampahnya masih dibakar mimpi. Memotret menjelang matahari terbit adalah momen terbaik.
Doa saya: penduduk Banda tidak dilanda kemiskinan. Istana ini, meski tidak terpelihara tapi tidak diduduki bangunan liar.
Pun Benteng Banda. Tidak terawat tapi utuh. Menjelang magrib adalah waktu terbaik naik ke atas benteng. Indah sekali. Inilah lokasi tertinggi di pulau Banda Kecil. Dari atas benteng bisa melihat semua laut di sekeliling Banda. Pulau Gunung Api bisa seperti di pelupuk mata.
Dibanding benteng mana pun di Indonesia, Benteng Banda adalah benteng terbaik yang masih ada. Utuh. Indah. Rasanya saya ingin tiap senja ke benteng ini: membaca buku atau menulis untuk Disway.
Sesekali di salah satu kamar lantai bawah benteng ini saya bisa menyanyi tanpa rasa malu: suara cempreng saya bisa berubah menjadi sedikit bulat oleh gema dinding-dinding tebal tuanya.
Pindah ruangan gemanya berbeda. Dari satu ruangan ke ruang lainnya suara saya bisa berganti dari Broery Pesulima ke Changcuters ke Gombloh dan Little Richard.(Dahlan Iskan)