Tidak hanya itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Kondisi ini meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas, karena instrumen lain menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.
Selat Hormuz Kembali Memanas
Ketegangan semakin terlihat ketika Iran menunjukkan kekuatan militernya di Selat Hormuz. Negara tersebut merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, menyusul runtuhnya pembicaraan damai yang diharapkan dapat membuka jalur pelayaran penting dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi global. Ketika situasi di kawasan ini terganggu, pasar langsung bereaksi karena risiko terhadap pasokan minyak meningkat.
Logam Mulia Lain Ikut Tersungkur
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan signifikan.
Harga perak spot anjlok 2,7% ke level USD75,55 per ons. Platinum turun lebih dalam sebesar 3,2% menjadi USD2.008,22 per ons. Sementara itu, paladium mencatat penurunan paling tajam hingga 5% ke posisi USD1.465,23 per ons.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya menyasar satu aset, tetapi menyebar ke seluruh sektor logam mulia.
Pasar Masih Dibayangi Ketidakpastian
Ke depan, arah pergerakan emas masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter. Selama konflik Iran-AS belum mereda dan inflasi tetap tinggi, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut.
Investor kini menghadapi dilema antara mencari aset aman atau mengejar imbal hasil yang lebih tinggi. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung bergerak cepat mengikuti sentimen global.
Dengan kombinasi konflik geopolitik, lonjakan energi, dan ekspektasi suku bunga tinggi, pasar emas tampaknya masih harus menghadapi tekanan dalam waktu dekat. (*)