Efisiensi biaya kredit atau Cost of Credit (CoC) juga berada di level 58 basis poin (bp), yang merupakan batas bawah dari target tahunan perusahaan. Artinya, bank sangat efektif dalam mengelola cadangan kerugian tanpa menggerus profitabilitas. Perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan ini bikin investor merasa lebih aman menyimpan modalnya di saham BMRI.

Margin Bunga Tetap Stabil di Tengah Fluktuasi Suku Bunga

Di tengah kondisi pasar keuangan yang dinamis, Bank Mandiri berhasil menjaga margin bunga bersih (NIM) di level 4,7%. Memang ada sedikit tekanan pada imbal hasil pinjaman (loan yield) karena penurunan suku bunga acuan di segmen grosir, tapi tenang saja! Hal itu tertutup manis oleh perbaikan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) yang turun 42bp secara tahunan.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga sangat impresif, yaitu naik 21% (yoy). Tabungan dan deposito masyarakat mengalir deras, memberikan likuiditas yang melimpah bagi bank untuk terus bermanuver. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) pun berada di level sehat 91%, lebih rendah dibandingkan 94% pada periode yang sama tahun lalu.

Valuasi Masih Murah: Kesempatan Emas yang Jangan Sampai Lepas

Analis tetap menjagokan BMRI sebagai pilihan utama (top pick) di sektor perbankan. Mengapa? Karena valuasinya saat ini dianggap sangat atraktif. Saham BMRI diperdagangkan pada Price to Book (P/B) 1,2 kali dan Price to Earnings (P/E) 7,3 kali untuk estimasi tahun 2026. Angka ini jauh di bawah rata-rata historis 10 tahunnya yang biasanya nangkring di P/B 1,6 kali dan P/E 11,3 kali.

Dengan fundamental yang makin kuat, kualitas aset yang tangguh, dan efisiensi operasional yang terjaga, rasanya sayang banget kalau kamu melewatkan momentum pertumbuhan ini. Tentu tetap ada risiko seperti perlambatan ekonomi global atau kompresi margin, tapi melihat rapor 1Q26 ini, Bank Mandiri sepertinya sudah punya “benteng” yang cukup kuat untuk menghadapi segala tantangan di masa depan. (*)