Tapi tenang, jangan langsung jual sahammu! Para ahli meyakini bahwa kinerja ketiga perusahaan ini adalah tipe “back-loaded”. Artinya, meskipun 1Q26 terlihat lesu, ledakan laba yang sesungguhnya baru akan terjadi secara masif pada semester kedua tahun 2026 (2H26F). Ini saatnya mengumpulkan perlahan saat harga masih diskon!
Fokus Dunia ke Selat Hormuz: Harga Belerang Naik 75 Persen, Apa Dampaknya?
Saat ini, mata para raksasa tambang seperti MDKA, MBMA, dan NCKL bukan cuma tertuju pada laporan keuangan, tapi juga pada Selat Hormuz. Ketegangan di wilayah tersebut membuat harga belerang (sulphur) melambung hingga 75 persen sejak awal tahun (YTD). Belerang adalah bahan baku penting dalam proses pengolahan nikel modern.
Meski harga bahan baku naik, perusahaan seperti MBMA justru punya peluang ekspansi margin. Harga jual NPI mereka melonjak 18 persen, dan untuk pertama kalinya MBMA mulai mengenakan harga pasar untuk bijih limonit di atas US$20 per wmt. Selisih keuntungan (cash margin) mereka diprediksi akan jauh lebih sehat dibandingkan tahun lalu. Dinamika di Selat Hormuz memang menakutkan, tapi di sisi lain, kelangkaan ini justru bisa memicu harga nikel LME naik lebih tinggi lagi!
Rekomendasi Sektor: Borong Saham Logam Sekarang Juga!
Melihat semua data di atas, para analis tetap memberikan rating “Overweight” untuk sektor logam. ANTM tetap menjadi pilihan utama (top pick) berkat pengiriman laba bersih yang spektakuler, disusul oleh INCO dan MBMA yang punya prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat solid.
Tentu tetap ada risiko, mulai dari kelangkaan belerang hingga risiko eksekusi proyek. Namun, dengan fundamental yang sekuat ini dan harga komoditas yang sedang di puncak, sektor pertambangan logam Indonesia tampaknya sedang menyiapkan pesta besar bagi para investor yang berani mengambil posisi sekarang. Jangan sampai kamu cuma jadi penonton saat indeks sektor ini nanti melesat tinggi! (*)