Lonjakan harga minyak sejak konflik AS-Israel melawan Iran meletus pada Februari lalu memicu kekhawatiran baru soal inflasi global. Meskipun emas sering kita anggap sebagai pelindung nilai (hedging) terhadap inflasi, namun ancaman kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi tersebut justru menjadi sentimen negatif bagi emas. Investor kini mulai ragu bank sentral akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Waspada Volatilitas Tinggi Menjelang Sidang Kevin Warsh
Fokus dunia kini tertuju pada gedung parlemen AS untuk memantau sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Chairman Federal Reserve (The Fed). Kevin Warsh bukan sosok sembarangan; ia dikenal membawa ide-ide perubahan besar di tubuh bank sentral. Warsh menyerukan pendekatan baru yang lebih agresif dalam mengendalikan inflasi serta perombakan strategi komunikasimoneter yang dianggap terlalu terbuka.
Haberkorn memperingatkan bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut Warsh dalam sidang Senate Banking Committee akan menjadi penentu arah pasar. Pernyataan yang condong agresif atau hawkish berpotensi memicu volatilitas tinggi yang bisa kembali menekan harga emas lebih dalam lagi. Pelaku pasar kini cenderung memilih memegang uang tunai (cash) daripada aset risiko maupun logam mulia.
Perak dan Logam Lain Ikut Merosot Parah
Penurunan harga emas hari ini ternyata juga menyeret logam mulia lainnya ke zona merah. Berikut rincian penurunan harga logam lainnya yang juga mengalami “kebakaran”:
- Perak Spot: Merosot tajam 3,9 persen menjadi USD76,76 per ons.
- Platinum: Terjun 2,7 persen ke posisi USD2.033,37 per ons.
- Paladium: Melemah 0,6 persen ke angka USD1.541,56 per ons.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor sedang berada dalam mode waspada penuh. Ketidakpastian politik di Timur Tengah dan perubahan arah kebijakan moneter AS di bawah kepemimpinan baru the Fed akan terus menjadi motor penggerak volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan. (*)