Pandangan Pragmatis Terhadap Teknologi AI

Di saat Google dan Microsoft jor-joran menanamkan modal di sektor AI, Ternus justru menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dan pragmatis. Baginya, teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan produk yang hebat.

“Kami tidak pernah berpikir untuk mengirimkan teknologi,” katanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini tentang AI dengan situs ulasan teknologi Tom’s Guide. “Kami selalu berpikir tentang bagaimana kami dapat memanfaatkan teknologi untuk mengirimkan produk-produk yang luar biasa.”

Namun, tantangan besar menantinya. Francisco Jeronimo dari IDC mempertanyakan apakah Ternus memiliki keberanian untuk mendefinisikan platform baru. Menurutnya, membangun perangkat keras yang hebat adalah masalah yang sudah terdefinisi, namun membangun platform AI yang diadopsi secara luas adalah tantangan yang berbeda sama sekali.

Sifat Perfeksionis yang Mendalam

Satu hal yang menonjol dari karakter John Ternus adalah sifat perfeksionisnya. Saat berbicara di Universitas Pennsylvania tahun 2024, ia menceritakan pengalamannya berdebat dengan pemasok hanya gara-gara jumlah alur pada sekrup di bagian belakang monitor. Meski sekrup itu jarang dilihat pelanggan, ia bersikeras jumlahnya harus 25 alur, bukan 35 alur.

“Jika Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu, Anda harus mengerahkan upaya terbaik Anda,” tegas Ternus.

Masa Transisi Kepemimpinan

John Ternus akan resmi mengambil alih kemudi sebagai CEO Apple pada 1 September. Ia menggantikan Tim Cook yang telah memimpin sejak 2011. Cook sendiri tidak benar-benar pergi, karena ia akan menjabat sebagai ketua eksekutif perusahaan.

Menariknya, saat ini Ternus berusia 50 tahun—usia yang sama dengan Tim Cook saat pertama kali menggantikan Steve Jobs. Dengan bergabungnya Ternus ke dalam dewan direksi Apple mulai September mendatang, publik menantikan inovasi berani apa yang akan ia bawa untuk mempertahankan takhta Apple di pasar global.