Bahkan, Kuwait sudah menyatakan status force majeure atas pengiriman minyak mereka akibat blokade selat tersebut. Jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut hingga satu bulan ke depan, dampaknya bisa sangat mengerikan. Analis Citi memprediksi total kerugian pasokan bisa mencapai 1,3 miliar barel, yang berpotensi melambungkan harga minyak hingga menembus level USD110 per barel pada kuartal kedua 2026.
Dampak Bagi Konsumen: Permintaan Mulai Tertekan
Mahalnya harga energi akibat ketegangan geopolitik ini mulai memakan korban. Laporan dari Societe Generale menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak akibat penutupan selat telah menekan permintaan global sekitar 3 persen. Orang-orang mulai mengurangi konsumsi energi karena harganya yang tidak lagi bersahabat dengan kantong.
Prediksi optimis menyebutkan bahwa pasokan minyak mungkin baru akan benar-benar kembali normal pada akhir 2026. Hingga saat itu, pergerakan harga minyak dunia akan tetap seperti roller coaster—sangat bergantung pada hasil negosiasi meja hijau dan situasi keamanan di perairan Timur Tengah. Tetap pantau terus perkembangannya karena apa yang terjadi di Selat Hormuz hari ini akan menentukan biaya hidup kamu esok hari! (*)