Keputusan MSCI ini langsung memicu tekanan jual, membuat IHSG merosot enam sesi berturut-turut. Amica Darmawan dari BNP Paribas Asset Management menilai bahwa pembekuan peningkatan faktor inklusi asing serta tidak adanya penambahan saham baru dalam indeks membuat arus modal asing jangka pendek sulit masuk ke Jakarta. Hal ini menjadi beban berat yang menekan indeks domestik kita ke zona merah.

Filipina Kena Mental, Rupiah Masih Bergoyang

Nasib serupa tapi tak sama dialami Filipina. Indeks PSEI tertekan setelah lembaga Fitch memangkas outlook negara tersebut menjadi “negatif” dari sebelumnya “stabil”. Fitch khawatir Filipina sangat rentan terhadap guncangan energi global. Meski dampaknya dinilai terbatas oleh para ekonom, sentimen ini tetap membuat investor di Manila lebih berhati-hati.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah sempat menunjukkan keperkasaannya hingga menyentuh level 17.100 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit melemah kembali ke posisi 17.140. Sekarang, semua mata tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) besok Rabu. Sebagian besar pengamat memprediksi BI akan tetap menahan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas mata uang kita di tengah gejolak pasar global.

Ringkasan Pasar Asia Sore Ini

Berdasarkan data penutupan sementara, berikut adalah potret pergerakan bursa dan mata uang Asia:

  • Korea Selatan (Kospi): Meroket 2,72% (Rekor Tertinggi)
  • Taiwan (TAIEX): Melonjak 1,75% (Puncak Sepanjang Masa)
  • Indonesia (IHSG): Melorot -0,71% (Pelemahan 6 Sesi Beruntun)
  • Jepang (Nikkei): Naik 0,89%
  • Filipina (PSEI): Naik Tipis 0,04% (Setelah Outlook Negatif Fitch)

Jadi, meskipun tren global sedang sangat positif karena dorongan saham AI, pasar Indonesia masih punya “PR” besar terkait penilaian indeks MSCI. Tetap pantau pergerakan harga chip dunia, karena itulah mesin utama yang sedang menggerakkan uang di pasar Asia saat ini! (*)