“Dana hasil penerbitan AT1 Baru akan kami gunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan Perseroan, serta mendukung ekspansi kegiatan usaha Perseroan,” ujar Okki dalam keterangan resminya. Ini adalah sinyal positif bagi Anda yang mengincar pertumbuhan jangka panjang, karena bank dengan permodalan kuat biasanya lebih agresif dalam menyalurkan kredit dan menciptakan inovasi bisnis baru yang menguntungkan.

Khusus Investor Global, BBNI Patuhi Aturan Ketat OJK

Satu hal penting yang perlu Anda catat adalah instrumen ini memang eksklusif untuk pasar luar negeri. BNI menekankan bahwa penerbitan ini berlangsung sepenuhnya di luar wilayah Indonesia. Artinya, instrumen modal ini tidak ditawarkan kepada investor domestik dan tidak akan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). BNI memilih SGX sebagai tempat bernaungnya instrumen ini guna menjangkau likuiditas global yang lebih dalam.

Meskipun nilainya terlihat sangat besar, BNI memastikan bahwa transaksi ini tetap dalam koridor aturan yang berlaku. Nilai penerbitan tersebut ternyata kurang dari 20 persen ekuitas BNI per 31 Desember 2025. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aksi korporasi ini tidak masuk dalam kategori Transaksi Material. Langkah ini menunjukkan tata kelola perusahaan yang sangat baik dan kepatuhan tinggi terhadap regulasi yang ada.

Waktu Settlement Sudah Dekat, Pantau Terus Dampaknya ke Saham BBNI!

Dengan rampungnya bookbuilding ini, mata pasar kini tertuju pada tanggal 22 April 2026. Keberhasilan BNI meraup dana USD700 juta dengan bunga 7,15 persen menunjukkan kepercayaan investor global terhadap fundamental bank ini masih sangat tinggi. Bagi Anda para pelaku pasar, perkuatan modal ini tentu menjadi katalis positif yang bisa meningkatkan daya saing BBNI di industri perbankan nasional maupun regional. (*)