AKP Aris mengonfirmasi bahwa hanya satu bus yang terkena dampak langsung dari aksi anarkis 20 orang tersebut. “Yang mengalami rusak kaca bus, hanya satu saja, yang lain-lainnya tidak ada ya,” ungkapnya. Beruntung, meski kaca pecah di jalur cepat, sopir berhasil mengendalikan kendaraan sehingga tidak terjadi kecelakaan beruntun yang lebih fatal.
Motif Kebencian di Balik Aksi Anarkis Suporter
Meski polisi enggan menyebutkan secara gamblang dari kelompok mana para pelaku berasal, AKP Aris memberikan isyarat kuat bahwa insiden ini berakar dari rivalitas buta antar suporter. Ia menegaskan bahwa aksi pelemparan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan bentuk ekspresi rasa tidak suka yang meluap-luap.
“Enggak mungkin lah kita orang awam melihat ini, mereka melakukan pelemparan tanpa dasar. Dasarnya mereka kan kebencian dan tidak suka,” papar Aris. Sangat disayangkan, rivalitas sejarah antara Jakarta dan Surabaya kembali ternoda oleh aksi segelintir oknum yang tidak siap menerima hasil pertandingan di lapangan.
Polisi Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa dalam Insiden Tol Japek
Kabar baik di tengah situasi kelam ini adalah tidak adanya laporan korban luka berat maupun korban jiwa. Pihak kepolisian memastikan seluruh pendukung Persebaya yang berada di dalam bus selamat dan bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya meskipun dalam kondisi syok.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dari pendukung Persebaya yang ingin pulang ke Surabaya,” pungkas AKP Aris. Meskipun selamat, trauma akibat serangan di jalan tol ini tentu meninggalkan luka mendalam bagi perkembangan iklim suporter di Indonesia. Keamanan di jalur tol saat kepulangan suporter kini kembali menjadi sorotan tajam bagi pihak pengelola jalan tol maupun kepolisian.
Keamanan Super League 2026 Jadi Pertanyaan Besar
Insiden di KM 13 Tol Jakarta-Cikampek ini menambah catatan hitam pengamanan kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Masyarakat berharap pihak berwenang bisa segera menciduk 20 orang tidak dikenal tersebut agar memberikan efek jera. Jangan sampai nyawa suporter yang ingin mendukung tim kesayangannya menjadi taruhan di jalan raya hanya karena fanatisme sempit yang merusak esensi olahraga. – Dimas Rafi –
Baca Juga