finnews.id – Sayap bersenjata Hamas memberikan pernyataan tegas terkait kelanjutan proses perdamaian di jalur Gaza. Kelompok tersebut menyatakan bahwa pembahasan mengenai perlucutan senjata sebelum Israel menerapkan sepenuhnya fase pertama gencatan senjata merupakan langkah berbahaya.
Hamas menilai tuntutan tersebut sebagai upaya terselubung untuk melanjutkan tindakan genosida terhadap warga Palestina.
Dalam sebuah pernyataan resmi melalui siaran televisi pada Minggu (5/4), juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaida, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima isu penyerahan senjata jika penyampaiannya dilakukan secara kasar.
Menurutnya, manuver yang musuh dorong melalui perantara atau mediator saat ini sangat berisiko bagi eksistensi perlawanan Palestina.
“Apa yang coba didorong musuh hari ini terhadap perlawanan Palestina, melalui mediator saudara kita, sangat berbahaya,” ujar Abu Ubaida.
Ia menambahkan bahwa tuntutan agar Hamas menyerahkan aset militer mereka merupakan bentuk nyata dari upaya melanjutkan kehancuran bagi rakyat Gaza. Oleh karena itu, pihaknya menutup pintu diskusi terkait hal tersebut dalam situasi saat ini.
Hambatan Utama dalam Rencana “Dewan Perdamaian” Trump
Isu penyerahan senjata ini menjadi ganjalan besar bagi implementasi rencana “Dewan Perdamaian” yang Presiden AS Donald Trump usulkan. Program ini bertujuan memperkuat gencatan senjata guna mengakhiri pertempuran besar yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Berdasarkan laporan dari sumber internal, Hamas telah menyampaikan sikap mereka kepada para mediator. Mereka menuntut jaminan penuh bahwa militer Israel akan meninggalkan wilayah Gaza secara total sebelum membicarakan teknis persenjataan.
Hingga kini, para pejabat politik Hamas belum memberikan komentar tambahan apakah pernyataan Abu Ubaida ini merupakan penolakan resmi terhadap draf usulan Amerika Serikat tersebut.
Kondisi Gaza dan Saling Tuduh Pelanggaran
Konflik berkepanjangan ini telah mengakibatkan kerusakan masif di Gaza. Serangan balasan Israel yang menghancurkan telah memaksa sebagian besar penduduk mengungsi dan meninggalkan wilayah mereka dalam kondisi tinggal puing.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata sudah berlaku, tensi di lapangan tetap tinggi. Baik Hamas maupun Israel berulang kali saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran poin-poin perjanjian.
Desakan Terhadap Mediator
Melalui pernyataan terbarunya, Abu Ubaida mendesak para mediator internasional untuk memberikan tekanan kepada pihak Israel. Ia meminta Israel memenuhi kewajibannya pada fase pertama rencana Trump sebelum melangkah ke fase kedua.
“Musuh adalah pihak yang merusak perjanjian,” tegasnya menutup pernyataan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Israel belum memberikan tanggapan resmi mengenai pernyataan juru bicara Hamas tersebut.