Oleh: Sigit Nugroho
Jangan pernah hitung pengeluaran untuk keluarga. Jangan sekali-kali.
Kalau Anda kepala keluarga, pasti tahu maksud saya. Tidak akan Anda catat berapa sak beras yang habis. Berapa kilo telur. Atau berapa liter minyak goreng untuk anak-istri. Pokoknya ada rezeki, beli. Mereka harus makan.
Begitu juga prinsip saya.
Bedanya, “anak” saya jumlahnya puluhan. Dan hampir semuanya berbulu.
Orang zaman sekarang menyebut saya Pawrent. Sebutan keren untuk pemelihara hewan. Khususnya kucing. Bagi saya dan istri, Dewi Astuti, kucing-kucing di rumah kami di Tarumajaya, Bekasi, bukan sekadar peliharaan.
Mereka adalah keluarga. Titik.
Hubungan saya dengan mereka bukan majikan dan hewan. Tapi hubungan batin. Hubungan timbal balik yang sangat humanis.
Kesukaan saya ini tumbuh natural. Sejak kecil. Waktu saya masih bocah di Cilacap. Saya tinggal bersama nenek, Mbah Soetariah.
Zaman itu, tahun 1990-an, saya baru sembilan tahun. Mana ada petshop di Cilacap. Belum ada toko yang menjual makanan kucing kemasan. Mau yang dry food atau wet food, tidak ada.
Peliharaan saya waktu itu seekor ayam bernama Blirik. Dan seekor kucing kampung pejantan. Warnanya putih-oranye. Namanya: Puyus.
Apa makan si Puyus?
Ikan pindang dicampur nasi.
Itu resep sakti nenek saya. Kucing harus dikasih nasi. Logikanya sederhana: biar kenyang. Padahal kucing itu karnivora murni. Tapi ya sudah. Saya nurut saja apa kata simbah. Puyus toh tumbuh sehat dengan menu ‘pindang-nasi’ itu.
Kini, saya sudah 45 tahun. Sudah mandiri. Tapi urusan kucing, saya tidak bisa “sembuh”. Kegilaan saya malah makin menjadi.
Semua bermula dari Pasar Jatinegara.
Suatu hari di tahun 2014, istri saya teraksa “membeli” seekor kucing persia karena kasihan. Ia terlihat kurus, ketakutan. Bulunya hitam pekat. Betina. Kami beri nama: Giovani. Panggilannya Gio.
Siapa sangka, Gio si hitam manis inilah yang menjadi “Hawa” bagi dinasti kucing di rumah saya.
Sekarang sudah tahun 2026. Artinya, Gio sudah bersama kami selama 12 tahun. Untuk ukuran kucing, Gio sudah sangat sepuh. Dia nenek moyang.
Gio adalah saksi hidup saya. Dia mengiringi perjuangan saya dan istri merintis kehidupan. Dia sejarah yang bernyawa.
Dia ikut pindah rumah tiga kali.
Mulai dari saat kami masih ngontrak di Kemanggisan, Jakarta Barat. Lalu pindah ke Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sampai akhirnya, alhamdulillah, kami bisa punya rumah sendiri di Tarumajaya, Bekasi.

Gio ada di sana. Di tiap sudut kontrakan sempit. Di dalam mobil saat pindahan. Hingga di ruang tamu rumah baru kami. Gio menyaksikan bagaimana saya memeras keringat. Bagaimana istri saya mengelola keuangan. Hingga kami sampai di titik sekarang.
Cinta kami pada Gio luar biasa. Bukan hanya karena dia saksi sejarah. Tapi karena daya hidupnya.
Dulu, Gio pernah kena penyakit Panleukopenia.
Bagi pencinta kucing, kata ‘Panleu’ itu horor. Itu virus paling mematikan. Vonis mati. Harapan hidupnya tipis sekali.
Tapi istri saya, Dewi, tidak menyerah. Dia telaten luar biasa. Dirawatnya Gio siang malam. Disuapi. Dikasih obat. Dibersihkan kotorannya. Buah kesabaran itu manis: Gio survive. Dia menang melawan maut.
Mungkin karena rasa syukur karena diselamatkan, Gio membalasnya dengan keturunan yang banyak.
Saya sampai lupa berapa kali Gio melahirkan. Tak terhitung. Yang jelas, hampir semua kucing yang ada di dalam rumah saya saat ini adalah trah langsung dari Giovani.
Anak pertamanya Kitty. Dari Kitty, lahirlah generasi-generasi berwajah rupawan.
Ada Millo Dino. Ada Adek Langit, Bumi, dan Bintang. Ada Keket, Luna, dan Lulu. Sampai generasi Adek Abu dan Betmen. Semuanya anak-cucu-cicit Gio.
Apakah memelihara puluhan kucing itu murah?
Sangat menguras isi kantong. Jujur saja.
Hitung saja sendiri pakan kualitas bagus. Pasir. Vaksin tahunan. Vitamin. Belum lagi biaya dokter kalau ada yang sakit. Kalau dimasukkan dalam pembukuan akuntansi, mungkin merah total.
Tapi saya punya logika sendiri. Logika iman. Bukan matematika murni.
Saya percaya pada keajaiban sedekah pada makhluk hidup.
Saya percaya, mereka membawa rezeki juga buat saya. Buktinya nyata. Dulu ngontrak, sekarang punya rumah sendiri. Rezeki selalu ada saja jalannya. Tepat di saat dibutuhkan.
Karena itu, saya pegang prinsip di awal tadi: saya tidak pernah mencatat berapa pengeluaran untuk kucing-kucing saya. Asal mereka tidak kelaparan, saya tenang.
Kedermawanan kami tidak berhenti di dalam rumah. Di teras, saya juga merawat kucing-kucing kampung yang mampir. Ada si Buntung, si Mujaer, si Iteng, dan Trio Snow White.
Mereka kucing outdoor. Makan di rumah saya, tidurnya entah di mana.
Kalau ditanya apa manfaatnya? Saya tidak punya jawaban ilmiah.
Saya cuman merasa senang dan bahagia. Bahagia itu sederhana: melihat makhluk kelaparan menjadi kenyang. Itu sudah kebahagiaan tak ternilai bagi saya.
Namun, menjadi Pawrent itu harus siap patah hati. Harus siap duka sedalam lautan. Masa paling menyedihkan adalah saat kehilangan Anabul (Anak Bulu). Entah hilang, atau mati karena sakit.
Lebaran Idulfitri 2026 kemarin menjadi Lebaran kelabu bagi saya.
Saya kehilangan tiga sekaligus dalam waktu berdekatan. Adek Abu, Betmen, dan Lulu. Mereka pergi selamanya.
Suasana Lebaran yang seharusnya ceria, jadi redup. Saya tidak konsen. Dukanya terlalu dalam.
Pertahanan air mata saya runtuh. Saya menangis sesenggukan. Cukup lama. Saya tidak kuat melihat Adek Betmen sekarat. Kejang-kejang di depan mata saya. Saya tidak berdaya.
Sumpah, saya tidak ingin melihat hal seperti itu lagi. Hati saya hancur setiap kali ada “anggota keluarga” yang pergi.
Bagi sebagian orang, mungkin saya berlebihan. Ah, cuman kucing. Nanti juga bisa beli lagi.
Tapi bagi saya dan istri, tidak ada yang bisa menggantikan mereka. Masing-masing punya nyawa. Punya kepribadian. Punya tempat khusus di hati kami.
Saat saya stres dengan pekerjaan jurnalisme yang padat, tingkah aneh kucing-kucing itulah hiburan paling mustajab. Tanpa kata-kata, mereka bisa menyembuhkan lelah saya.
Kini, doa saya tidak neko-neko.
Saya hanya minta kepada Tuhan agar dicukupkan rezeki. Agar saya dan istri bisa terus merawat “anak-anak berbulu” itu selama-lamanya. Saya juga minta kesehatan untuk kami semua. Yang manusia, maupun yang kucing.
Saya punya cita-cita.
Kalau nanti diberi rezeki berlimpah, saya ingin menolong lebih banyak lagi stray cat—kucing jalanan. Hidup di jalanan itu keras. Kelaparan. Kedinginan. Ditendang orang. Ditabrak kendaraan.
Saya ingin punya Rumah Kucing. Ingin menyelamatkan mereka yang hidupnya belum beruntung.
Aamiin.
Semoga dinasti Giovani terus lestari. Dan semoga suatu saat nanti, rumah impian untuk kucing-kucing jalanan itu bisa terwujud.
Dunia butuh lebih banyak kasih sayang. Sekecil apa pun itu. Bahkan untuk seekor kucing hitam di pasar. (Sigit Nugroho)