“Terjadi ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan gugurnya prajurit saat mereka sedang menjalankan misi mengawal kendaraan UNIFIL,” ujar Aulia dalam keterangannya.
Daftar Prajurit yang Luka-luka
Selain korban jiwa, serangan di wilayah konflik tersebut juga melukai lima prajurit TNI lainnya. Pada insiden pertama hari Minggu, tiga prajurit mengalami luka-luka, yakni Praka Rico Pramudia (luka berat), serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan (luka ringan).
Sementara itu, pada insiden ledakan konvoi hari Senin, dua perwira dan prajurit lainnya turut menjadi korban luka, yaitu Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
Mayjen Aulia menjelaskan bahwa prajurit yang mengalami luka ringan kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Level I UNIFIL. Namun, bagi Praka Rico Pramudia yang menderita luka berat, tim medis telah mengevakuasinya menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan yang lebih komprehensif.
Indonesia Kutuk Keras dan Tuntut Investigasi Penuh
Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam melihat putra-putra terbaiknya gugur di medan tugas internasional. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia melayangkan kecaman paling keras terhadap serangan yang menghantam personel PBB tersebut.
“Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh serta transparan,” tegas Kemlu RI melalui pernyataan resminya.
Senada dengan Kemlu, Menteri Luar Negeri Sugiono yang saat ini sedang mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, mendesak pihak PBB untuk segera mengungkap dalang di balik serangan mematikan ini. Ia menegaskan bahwa Indonesia menuntut investigasi penuh dari UNIFIL guna menemukan sumber ledakan dan serangan artileri tersebut.
“Kami meminta investigasi penuh untuk menemukan sumber insiden ini. Kami juga mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi guna mencegah kekerasan lebih lanjut,” kata Sugiono.
PBB: Serangan terhadap Penjaga Perdamaian adalah Pelanggaran Hukum
Duka ini pun memantik reaksi keras dari Sekjen PBB, António Guterres. Melalui pernyataan resminya, Guterres menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan pemerintah Indonesia. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap personel PBB merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.