Catatan Dahlan Iskan

Iri Masyaallah

Bagikan
Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman. Yang kawin adalah kurma. Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba --hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.
Bagikan

Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk –mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.

Di salah satu bagian wadi itu disebut Wadi Doan. Itulah kota Wadi Doan, kampung nenek moyang Kholid Bawazir.

Di sepanjang pinggir sungai kering itu ada jalan raya kecil. Itulah yang menghubungkan satu wadi dengan wadi lainnya.

Kami mencoba menelusuri jalan wadi itu. Sampai satu jam. Tiba di kota wadi yang lain. Di situ ada satu masjid. Juga makam. Ternyata itu makam leluhur tokoh Arab di Jakarta –yang saya juga kenal baik dengannya.

Semua itu tidak terlihat dari jalan raya utama Mukalla-Tarim. Tapi, kalau Anda mau, mobil bisa Anda ajak keluar dari jalan raya. Masuk padang tanah. Offroad. Ke arah satu celah di kejauhan sana. Anda akan sampai di pinggir jurang. Dari bibir jurang itu Anda bisa melongok jauh ke bawah: di sanalah kotanya.

Ternyata sudah ada seorang pengusaha Saudi membangun kawasan villa di bibir salah satu tebingnya. Saya pun diajak ke villa itu. Istirahat di situ. Bukan main pemandangannya: menakjubkan. Tak terpermanai. Kami bisa melongok ke dalam jurang wadi. Dramatis.

Jurang itu dalam sekali. Banyak pohon kurma di dalamnya.

Unik: di bawah sana ada beberapa bukit. Di atas bukit itu banyak rumah. Satu kampung itu di atas bukit. Jadi, kampung itu berada di ketinggian di bawah sana. Aneh, ada kota di atas gunung, tapi gunung itu di dalam jurang. Semua itu terlihat dari villa di atasnya.

Villanya sendiri sepi. Akibat perang. Hanya ada satu lelaki Polandia yang bermalam bersama pasangannya. Tiga malam di situ. Alangkah menakjubkannya suasana malam hari di padang pasir di tepi jurang –mirip Grand Kanyon di Amerika.

Di sepanjang jurang itu banyak kota kecil karena ada air di sana. Air adalah sumber kehidupan. Di samping banyak pohon kurma banyak juga pohon cedar. Daun cedar biasa digunakan untuk mengubur mayat. Tiap satu mayat ‘dibalut’ daun cedar satu karung.

Maka kota Wadi Doan adalah kota panjang yang tersembunyi di celah-celah pegunungan batu yang amat dalam. Dari atas pesawat celah itu lebarnya seperti hanya satu meter. Seperti tidak ada apa-apa di celah itu. Setelah saya memasuki celah itu ternyata lebar celahnya sekitar 500 meter.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Oei Al-Kaff

Bakarnya dua cara: pakai arang seperti sate atau pakai bejana: adonan dimasukkan...

Catatan Dahlan Iskan

Mata Lasik

“Kenapa tarifnya pakai dua mata uang, dolar Amerika dan real Saudi?” tanya...

Catatan Dahlan Iskan

Amang Amat

Ternyata itu hanya di tulisan. Kenyataannya pesawat saya ini terbangnya ke Saiyun....

Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Komisi

  “Saya baru datang dari Makkah tadi malam,” ujar Pak Mukri.  ...