finnews.id – Pembatasan ekspor logam penting untuk baterai oleh Afrika memberikan pukulan telak bagi perusahaan-perusahaan China yang telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan tambang di sana guna mendominasi pasokan global.
Selama lebih dari satu dekade, perusahaan tambang China telah menginvestasikan uang di Afrika untuk mengamankan bahan baku bagi smelter dan pabrik mereka di negara asal, di tengah ekspektasi peningkatan permintaan mineral yang digunakan dalam kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS).
Sementara bagian lain dunia menolak upaya China untuk mendapatkan pijakan, negara-negara Afrika sebagian besar masih menyambut investasi tersebut.
Namun, keadaan menjadi makin sulit. Republik Demokratik Kongo mulai memberlakukan pembatasan ekspor kobalt pada Februari 2025 untuk mengurangi kelebihan pasokan dan mendapatkan nilai lebih dari hasil produksinya, sementara Zimbabwe bulan lalu melarang pengiriman konsentrat litium untuk mendorong pengolahan lokal.
Langkah-langkah tersebut dengan cepat menaikkan harga, yang saat ini berada pada atau mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu menciptakan dilema bagi perusahaan tambang China, yang untuk saat ini tidak dapat menuai keuntungan penuh dari aset mereka di sana.
Di Kongo, pemasok kobalt utama, produsen nomor 1 CMOC Group Ltd. kini menggali logam tersebut jauh lebih banyak daripada yang dapat diekspornya.
Di Zimbabwe, para produsen perlu melakukan investasi tambahan besar-besaran dalam kapasitas smelter untuk menghindari larangan tersebut.
Bagi para produsen yang mereka pasok, pembatasan ekspor mendorong kenaikan harga logam-logam penting untuk transisi energi.
“Langkah-langkah kebijakan ini sangat penting,” kata Christopher Edyegu, seorang analis di Africa Risk Consulting.
“Lanskap pertambangan di Afrika berubah drastis dan tren yang lebih luas menuju kedaulatan sumber daya atau nasionalisme sumber daya kemungkinan besar akan meningkat daripada menurun, terutama mengingat persaingan geopolitik untuk sumber daya penting.”