Catatan Dahlan Iskan

Singapura Gagal

Catatan dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Ia pun sibuk bertanya ke sana-kemari. Dengan tertawa ia lantas lari ke arah saya.

“Hotel tempat bapak tinggal ini berada di tengah-tengah Singapura II,” katanya.

Saya pun ikut tertawa lebar. Hahaha-nya panjang.

Tidak menyangka kawasan industri megah itu sudah jadi kota besar yang amat modern. Tidak ada lagi pabrik di sekitar hotel ini. Yang ada gedung-gedung penuding langit. Semua dengan arsitektur modern. Saya seperti terpaku di lantai granit.

“Kalau begitu di mana letak gerbang besar bersinga itu?”

Ia kembali sulit mencerna pertanyaan saya. Ia sibuk memainkan HP. Mungkin bertanya ke AI. Buktinya: tidak lama kemudian ia memberi jawaban sambil melihat layar HP. “Gerbang itu sudah tidak ada lagi. Sudah lama dihilangkan,” katanya.

“Apakah Anda pernah tahu gerbang yang khas Singapura itu?”

“Tidak pernah tahu. Tidak pernah mendengar,” jawabnya.

“Bisakah dicarikan tahu di mana lokasi gerbang itu sekarang?”

Ia sibuk bertanya ke AI. Lalu datanglah jawabnya: di lokasi itu sekarang sudah berdiri gedung megah menjulang tinggi. Orang Suzhou menyebutnya “Gedung Celana Panjang”.

Lalu ditunjukkanlah kepada saya foto gedung itu. Sudah menjadi ikon baru Suzhou. Sudah tidak ada bau Singapura sedikit pun.

Saya lantas minta diantar ke si Celana Panjang itu. “Dekat. Hanya lima menit,” katanya.

Kami pun ke sana. Melewati pinggir danau yang dipercantik. Dari jauh pun segera terlihat Gedung Celana Panjang itu. Betul. Mirip sekali bentuk celana panjang. Tapi celana panjangnya orang yang pakai egrang. Kakinya terlalu panjang untuk pantat tepos seperti pantat saya.

Begitu sampai di bawahnya terasalah betapa tinggi dan besar gedung itu. Di bagian bawah selangkangan gedung itu adalah plasa. Plasa luas. ”Selangkangan” itu ternyata sekaligus difungsikan sebagai gerbang ke mal di belakangnya.

Banyak sekali pengunjung plasa ini. Kami turun ke lantai bawah melalui eskalator. Di situ ada stasiun kereta bawah tanah. Setelah menyusuri lobi stasiun itu kami naik ke plasa yang di pinggir danau. Lalu kembali menatap ke atas. Ke puncak gedung Celana Panjang.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Tamparan Mojtaba

Komunikasi seperti apa yang dijalankan. Adakah kembali ke zaman seperti perang gerilya...

Catatan Dahlan Iskan

Fir’aun Baik

Menurut cerita kuno, waktu memummikan jenazah para Fir’aun itu seluruh isi perut...

Catatan Dahlan Iskan

Tol Tentara

Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk...

Catatan Dahlan Iskan

Ziarah Ziarah

“Tapi Anda masih tetap Persis kan?” tanya saya. “Masih,” katanya. “Ada berapa...