finnews.id – Berbeda dengan mobil bensin, harga jual mobil listrik bekas diungkapkan sangat anjlok di Indonesia.
Bahkan, depresiasinya bisa tembus 50 persen hanya dalam 3-4 tahun. Apa biang keroknya?
Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar menjelaskan, ada dua alasan utama mengapa harga mobil listrik bisa ‘terjun bebas’ di Indonesia. Pertama, kata dia, kemunculan produk-produk baru yang jauh lebih canggih dan murah.
Dia juga mengungkapkan bahwa Strategi tiap pabrikan berbeda. Hal tersebut termasuk salah satu penyebabnya.
Selain itu kondisi baterai yang terus menurun dari tahun ke tahun, garansi yang hangus saat berpindah tangan juga menjadi hal yang membuat harga jual mobil listrik bekas anjlok.
Agung mengklaim, depresiasi ekstrem berdampak pada mobil-mobil listrik yang telah lama di pasar Indonesia. Misalnya, kata dia, Wuling Air ev dan Hyundai Ioniq 5.
“Kalau kita lihat yang banyak kan yang udah 3-4 tahunan, ada Wuling Air ev dan Hyundai Ioniq 5. Yang lain ada, kayak BYD dan Chery, tapi jumlahnya masih sedikit, harganya belum kebentuk dan masih suka-suka,” tuturnya.
“Tapi harga kalau udah stable kayak Air ev dan Ioniq 5 penurunan harganya lumayan, tiga tahun udah bisa (turun) 50 persenan,” tambahnya.
Agung memberikan gambaran, Hyundai Ioniq 5 dengan pemakaian tiga tahunan, kini bisa ditebus Rp 350 jutaan. Padahal, kata dia, harga barunya mencapai Rp 800 jutaan. Maka, depresiasinya lebih dari 50 persen.
“Ioniq 5 sekarang yang tahun 2022 itu sekitar Rp 350 jutaan. Padahal, barunya masih Rp 800 jutaan. Air ev juga, karena policy diskon mobil listrik baru (di Indonesia) kan lumayan ekstrem. Sekarang banyak mobil listrik baru yang lebih bagus tapi harganya lebih murah,” kata dia.