Catatan Dahlan Iskan

Ziarah Ziarah

catatan dahlan iskan

Bagikan
Bagikan

“Tapi Anda masih tetap Persis kan?” tanya saya.

“Masih,” katanya.

“Ada berapa orang Persis yang kuliah di Al Azhar?”

“Ada 200-an orang”.

Tentu itu objek menarik untuk penelitian: bagaimana 200 orang itu bermetamorfosis dari ajaran Persis ke ahli sunnah yang wasatiyah.

“Bisa untuk disertasi S-3,” kata saya kepada ustaz saudagar Fauzi. Apalagi ia sendiri mengalaminya.

Saya ceritakan kepadanya: waktu muda salah satu bacaan saya adalah majalah Al Muslimun. Rutin. Itu majalahnya Persis. Yang menerbitkan Persis Bangil, Pasuruan. Sudah lama majalah itu mati.

Saya juga bercerita tentang wartawan saya yang juga dari keluarga pimpinan Persis di Tasikmalaya. Wartawan hebat. Akhirnya jadi pemred harian Rakyat Merdeka.

Ia alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneruskan S-2 di McGill University di Kanada. Lalu ambil gelar doktor di Belanda. Disertasinya tentang tarekat NahshabandiyahQadiriyah. Sekarang ia jadi wakil mursyid aliran tarekat itu. Di Ciamis. Di Sirna Rasa. Menjadi wakilnya Abah Aos –keturunan Abah Anom Suryalaya. Namanya: Dr Budi Rahman Hakim. Dari Persis ke tarekat.

Sebenarnya saya merasa cukup ziarah ke satu makam saja: Imam Syafi’i. Tapi Fauzi-lah yang justru mengajak saya ziarah ke banyak makam lainnya. Masih pula mampir ke makam satu lagi: makam anak kecil yang di usia tiga tahun sudah hafal Quran. Ia meninggal di umur empat tahun.

Ibu sang anak kini hidup di makam anaknyi itu. Tinggal di situ. Menjanda. Suaminyi juga dimakamkan di situ.

Makam anak kecil itu harus ditunggui karena banyak peziarah yang datang ke situ. Minta berkah. Sang ibu yang bisa memberi penjelasan lengkap.

Makam di Kairo umumnya memang dijaga. Keluarga yang meninggal membayar petugas jaga. Petugas itu tinggal di makam. Ada tempatnya. Makam di sana besar-besar. Satu makam seperti satu rumah.

Ternyata tidak hanya makam orang Tionghoa yang besar-besar. Pun orang Arab Mesir.

“Ada dua juta orang di Kairo yang pekerjaannya menjadi penunggu makam. Tidur di makam,” ujar Kang Fauzi.
Akhirnya dari hanya ingin ziarah ke satu makam menjadi ziarah ke enam makam. Termasuk ke makam orang yang membiayai pembangunan makam Imam Syafi’i. Betapa kaya orang itu. Mampu membangun makam Imam Syafi’i yang begitu megah dengan kubah yang tinggi. Ia seorang pengusaha besar di masa itu. Makamnya hampir bersebelahan dengan Imam Syafi’i.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Kelas Delcy

Kini Delcy lagi jomblo. Setelah cerai dengan bintang film terkenal di sana,...

Catatan Dahlan Iskan

Serangan Fajar

Angkatan udara berarti sektoral. Punya egonya sendiri. “Kekuatan udara tidak hanya angkatan...

Catatan Dahlan Iskan

Bela Khamenei

  Mega tidak perlu merasa takut akan konsekuensi ucapan duka cita itu....

Catatan Dahlan Iskan

Tujuan IsAm

Apakah Amerika akan melakukan itu? Rasanya Kongres Amerika akan mencegahnya. Di perang...