Oleh: Dahlan Iskan
Hujan memang masih turun dari langit, tapi petirnya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan. “Impor mobil dari India agar ditunda dulu”, ujar Wakil Ketua DPR Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad, dua hari lalu.
Impor mobil? Dari India? Siapa yang impor? Untuk apa?
Saya benar-benar seperti tersambar petir. Tidak pernah dengar berita apa pun di sekitar impor mobil itu. Tiba-tiba ada berita minta ditunda. Selentingan pun belum pernah. Benar-benar ketat penjagaan informasi rencana impor itu. Tiba-tiba saja sudah begitu jauh: mobilnya sudah dipesan. Uang muka sudah dibayar: 30 persen.
Petir berikutnya: jumlah mobil yang dibeli itu ternyata besaaaaar sekali: 105.000 mobil. Berarti uang muka yang sudah dibayar sama dengan nilai harga penuh 35.000 mobil.
Setelah agak tersadar dari kekagetan saya ingat: harus sering memuji orang. Pasti ada orang hebat di baliknya. Salah satunya: manajer pemasaran pabrik mobil India itu. Ia/dia manajer yang hebat. Sangat berprestasi. Ia/dia pantas dapat bonus besar tahun ini. Atau naik jabatan.
Masih ada petir susulan yang menyambar kepala saya. Namanya: Joao Angelo de Sousa Mota. Saya kaget. Ternyata Joao-lah yang memutuskan membeli mobil sebanyak itu.
Yang membuat saya lebih kaget: ternyata Joao masih menjabat Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itulah yang melakukan transaksi dengan pabrik mobil India.
Saya pikir Joao sudah tidak di perusahaan itu lagi. Ia kan sudah mengajukan surat pengunduran diri. Ia mundur karena kecewa: sudah enam bulan menjabat dirut belum bisa berbuat apa-apa. Ia mengeluhkan birokrasi di Danantara yang masih sama dengan BUMN.
Waktu mundur itu saya melakukan wawancara dengan Joao. Lalu saya tulis di Disway (lihat disway 13 Agustus 2025: Petir Joao).
Sebagai anak perusahaan Danantara semua rencana kerja PT Agrinas Pangan Nusantara memang harus disetujui holding.
Joao tidak pernah mendapat persetujuan apa pun. Ia malu sudah enam bulan bergaji besar tapi tidak bekerja apa-apa. Padahal target pemerintah di bidang swasembada pangan begitu besar gemanya. PT Agrinas Pangan belum berbuat apa-apa. Ia pilih mundur.