Home Ekonomi KEPERCAYAAN Bukan MEREK, Gejolak Pasar Indonesia saat ini
Ekonomi

KEPERCAYAAN Bukan MEREK, Gejolak Pasar Indonesia saat ini

pentingnya kepercayaan konsumen

Bagikan
Yang dibutuhkan pasar Indonesia - Kepercayaan Bukan Merek
Bagikan

finnews.idDalam sistem keuangan global yang menjunjung tinggi transparansi, keandalan data, dan prediktabilitas, kredibilitas institusional sangatlah penting.

INDONESIA mengalami awal tahun yang berat.

Serangkaian skandal startup terkenal telah mengguncang kepercayaan pada ekosistem teknologi negara yang dulunya sangat terkenal.

Penyedia indeks global MSCI sebelumnya sudah memperingatkan bahwa Indonesia berisiko diklasifikasi ulang sebagai pasar perbatasan (frontier market), yang mana bisa memicu aksi jual tajam di pasar saham dan tekanan pada rupiah.

Baru-baru ini, Moody’s merevisi prospek peringkat kedaulatan Indonesia menjadi negatif, dengan alasan kekhawatiran seputar prediktabilitas kebijakan dan tata kelola.

 

Nampak sekilas, perkembangan ini tampak tidak saling berhubungan.

Penipuan startup terjadi di pasar swasta, MSCI menangani ekuitas publik, peringkat kedaulatan adalah ranah para ekonom makro dan investor utang.

Namun jika digabungkan, semuanya menceritakan kisah yang lebih koheren dan tidak nyaman.

Ini bukanlah krisis pertumbuhan, bakat, atau ambisi melainkan adalah krisis kepercayaan.

 

Beberapa tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan teknologi unggulan Indonesia dipamerkan sebagai simbol kemajuan nasional.

Modal ventura mengalir bebas, para pendiri dipuja sebagai pembangun bangsa, dan “pertumbuhan dalam skala besar” adalah mantra yang berlaku.

Maknanya kurang lebih seperti ini:

“ Tantangan Indonesia bukanlah untuk ‘menciptakan’ kepercayaan, tetapi untuk menerjemahkan kepercayaan relasional menjadi kredibilitas kelembagaan, tanpa membongkar jaringan yang memungkinkan perekonomian berfungsi. ”

Dari ungkapan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa:

– Optimisme itu kini perlahan dikikis oleh tuduhan lemahnya pengendalian internal, pembukuan ganda, dan kegagalan tata kelola di beberapa perusahaan rintisan ternama.

– Ini bukan kecaman terhadap teknologi atau modal ventura sebagai kelas aset.
Modal risiko, menurut definisinya, mendukung ide-ide yang mungkin gagal. Banyak startup Indonesia telah memberikan nilai sosial dan ekonomi yang nyata.

– Yang gagal bukanlah teknologi, melainkan tata kelola.

Dari kesimpulan diatas kita bisa memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh pasar Indonesia saat ini.

Apa yang harus dibangun dan apa yang harus dibentuk serta dipertahankan.

Menciptakan pertumbuhan ekonomi dalam skala besar bersumber dari akar, dan dibenahi dari akarnya pula.

Bagikan
Artikel Terkait
Ekonomi

Lowongan Bea Cukai untuk Lulusan SMA Dibuka, Ini Syarat, Posisi, dan Cara Daftarnya

finnews.id – Kabar baik bagi lulusan SMA atau sederajat yang tengah berburu...

Ekonomi

Gaji Pensiunan ASN 2026 Dikabarkan Naik, Pemerintah dan TASPEN Beri Penjelasan Resmi

finnews.id – Isu kenaikan gaji pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali mencuat...

Ekonomi

Gaji ke-13 ASN dan PPPK 2026 Terancam Efisiensi? Ini Penjelasan Terbaru Pemerintah

finnews.id – Isu efisiensi anggaran terhadap gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN)...

Ekonomi

Pengumuman! Stok BBM Subsidi Pertalite Bertahan 18 Hari, Pertamax 22 Hari

finnews.id – BPH Migas memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi nasional...