finnews.id – Dunia sepak bola Asia Tenggara kembali memanas! Bukan karena duel di lapangan hijau, melainkan drama di luar stadion yang melibatkan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dengan media asal negeri jiran, Malaysia. Baru-baru ini, sebuah narasi liar beredar yang menuduh orang nomor satu di sepak bola Indonesia tersebut sengaja “mengadu” ke FIFA terkait skandal naturalisasi pemain Timnas Malaysia.
Tudingan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, mengingat hubungan antarnegara di kawasan ASEAN sedang berupaya tetap harmonis. Namun, alih-alih terpancing emosi atau memberikan pembelaan yang bertele-tele, Erick Thohir justru mengeluarkan pernyataan yang sangat elegan sekaligus menohok. Respons ini seolah menegaskan posisi Indonesia yang saat ini memang sedang berada di level yang berbeda dalam kancah sepak bola internasional.
Salah Sasaran! Ternyata Vietnam yang Adukan Malaysia
Usut punya usut, tuduhan media Malaysia tersebut ternyata salah alamat. Fakta yang sebenarnya terjadi adalah Vietnam-lah yang mengajukan aduan resmi kepada otoritas sepak bola dunia, FIFA. Federasi sepak bola Vietnam, yang dikenal dengan julukan Golden Star Army, merasa tidak puas dan tidak menerima hasil kualifikasi Piala Asia 2027 tahun lalu saat mereka ditekuk 4-0 oleh Harimau Malaya.
Vietnam mempersoalkan prosedur naturalisasi yang dilakukan Malaysia dalam laga tersebut. Namun, entah mengapa, narasi yang berkembang di media Malaysia justru menyeret nama Erick Thohir dan PSSI. Hal ini memicu reaksi publik yang mempertanyakan mengapa Indonesia yang disalahkan atas tindakan negara lain.
Respons Menohok Erick Thohir: Mohon Maaf, Kelas Kita Beda!
Menanggapi kabar miring yang beredar di media sosial dan pemberitaan luar negeri, Erick Thohir akhirnya buka suara di Kantor Kemenpora, Jakarta. Dengan gaya bicaranya yang tenang namun tegas, pria yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN ini menepis jauh-jauh anggapan bahwa PSSI punya waktu untuk mengurusi dapur negara lain.
Erick menegaskan bahwa fokus Indonesia saat ini adalah membangun kekuatan sendiri dan tidak ada urgensi sedikit pun untuk mengintervensi atau menghambat kemajuan sepak bola negara tetangga. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegas bahwa PSSI memiliki visi yang lebih besar daripada sekadar terjebak dalam drama rivalitas yang tidak produktif.
“Saya rasa buat apa kita mengintervensi kemajuan negara lain. Jadi saya mohon maaf, kelasnya engga disitu,” ucap Erick Thohir di Kantor Kemenpora, Jakarta pada Jumat (20/2/2025).
Visi Besar: Tingkatkan Standar Sepak Bola Asia Tenggara
Alih-alih senang jika tetangga terkena sanksi atau masalah, Erick Thohir justru berharap seluruh negara di Asia Tenggara bisa maju bersama. Ia melihat bahwa persaingan yang sehat di kawasan ASEAN sangat penting untuk memicu kenaikan kualitas permainan setiap tim nasional, termasuk Indonesia.
Menurutnya, jika standar permainan di negara-negara tetangga meningkat, maka Timnas Indonesia pun akan terdorong untuk mencapai level yang lebih tinggi lagi. PSSI berkomitmen untuk terus mendorong atmosfer kompetisi yang positif demi kejayaan sepak bola Asia di mata dunia.
“Justru kita mendorong bagaimana persaingan itu terus ditingkatkan di negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya supaya kita sendiri bisa meningkatkan kualitas,” jelas Erick lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki mentalitas pemenang yang tidak takut akan kemajuan rival.
Harapan untuk Peran Asia di Kancah Internasional
Ke depan, Erick Thohir bermimpi melihat negara-negara dari Benua Kuning, khususnya dari Asia Tenggara, mampu berbicara banyak di kompetisi internasional seperti Piala Dunia. Fokus pada pembinaan usia dini dan profesionalisme liga domestik jauh lebih penting bagi PSSI daripada menanggapi rumor yang tidak berdasar.
Erick berharap agar energi masyarakat bola di kawasan ini lebih diarahkan pada kolaborasi untuk membangun peran Asia yang lebih kuat. Dengan begitu, Asia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain kunci dalam industri sepak bola global. – Dimas Rafi/Disway –