Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

976 langkah.

Anda tidak bisa mengoreksi angka yang saya tulis itu. Hanya saya sendiri yang tahu –mungkin kurang atau lebihnya hanya beberapa saja: terutama kalau perjalanan roda itu lagi macet saking banyaknya yang ingin ngebut.

Berarti 976 kali tujuh putaran: sekitar 7.000 langkah. Masih ditambah hilir mudik tujuh kali saat sa’i: antara Shafa dan Marwah. Sekitar itu juga. Total 15 ribu langkah sekali umrah.

Lega.

Untung kami masuk masjid sebelum waktu magrib. Bisa salat magrib di lantai dua. Bisa pilih lokasi di dekat tempat start tawaf. Istri salat di atas kursi roda. Di kelompok wanita. Saya bersama kelompok para lelaki di bagian depan.

Begitu salat magrib selesai tawaf pun dimulai. Suasananya seperti balap formula one: menyiapkan diri agar bisa start duluan di saat masih banyak orang di jalur lintasan.

Menjelang putaran keenam terdengar azan salat isya. Harus berhenti dulu. Salat isya berjamaah. Lalu berputar lagi untuk menyelesaikan lap keenam dan ketujuh.

Pukul 22.15 ibadah umrah selesai. Lalu ke hotel. Check-in. Ketika tiba dari Madinah tidak sempat check-in. Lebih baik langsung ke masjid dulu. Agar sebelum tengah malam ibadah umrah bisa selesai.

Tentu istri kelelahan –biar pun di kursi roda. Menjelang tengah malam itu saya minta izin untuk mandi sebelum dia. Selesai mandi saya harus ke bandara. Ups…belum bisa ke bandara. Harus mengisi acara live Dismorning: pukul 01.00 waktu Makkah. Atau pukul 05.00 WIB.

Maka selesai mandi saya keluar hotel. Cari lokasi podcast. Cahaya lampu di kamar kurang memadai untuk kamera Redmi termurah ini.

Kebetulan di pinggir jalan menuju masjid Al Haram itu ada tumpukan bata putih. Setinggi satu meter. Ini dia. HP saya letakkan di tumpukan bata itu. Tapi latar belakangnya terlalu terang. Terlalu banyak cahaya di sekitar masjid Al Haram.

Apa boleh buat. Mata pemirsa mungkin agak tersilau oleh cahaya kuat dari berbagai lampu halaman itu.

Kembali ke kamar, ternyata istri belum mandi. Masih kelelahan. Saya pun pamit ke bandara. Ke Yaman.

Sebelum cium keningnyi saya jelaskan sekali lagi kepadanyi: mengapa dia sering menggigil luar biasa.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

  “Tidak apa-apa. Ini kan diasuransikan,” jawab saya selalu.   Sebenarnya saya...

Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Ketiga, penertiban tambang batubara. Sebenarnya program ini sangat mulia. Toh hanya tambang...

Guinness Patrick
Catatan Dahlan Iskan

Guinness Patrick

Makan siang Patrick juga monoton: biasanya daging ayam yang hanya direbus. Bagian...

Catatan Dahlan Iskan

Jakarta Malang

Oleh: Dahlan Iskan Antarumat itu terlihat begitu rukun. Gereja Katolik Katedral Malang...