finnews.id – Iran Ancam Hancurkan Pangkalan Militer AS di Timur Tengah: Eskalasi Konflik yang Mengkhawatirkan
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik puncak pada pertengahan tahun 2025 setelah Amerika Serikat (AS) bergabung dengan Israel dalam serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Tanggapan dari Teheran sangat keras: pemerintah Iran secara resmi mengancam akan menghancurkan pangkalan militer AS di kawasan, menyatakan bahwa seluruh warga sipil dan personel militer Amerika di Timur Tengah kini menjadi sasaran.
Latar Belakang Eskalasi
Eskalasi ini bermula pada 12 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan “Operasi Singa Terbangun” yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran, termasuk situs pengayaan uranium Natanz serta area di sekitar Isfahan dan Teheran. Serangan ini menyebabkan kerusakan luas dan menewaskan beberapa tokoh penting militer Iran, antara lain kepala staf angkatan bersenjata Mohammad Bagheri.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan “Operasi Janji Sejati 3” pada hari berikutnya, menembakkan lebih dari 150 rudal balistik dan drone kamikaze ke wilayah Israel. Namun, ketegangan semakin memuncak ketika AS secara langsung terlibat pada 21 Juni 2025, menyerang tiga fasilitas nuklir Iran (Fordow, Natanz, dan Isfahan) menggunakan pesawat tempur dari luar wilayah Arab.
Ancamannya yang Jelas dari Iran
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, segera mengeluarkan peringatan langsung kepada Washington: “Amerika harus tahu bahwa setiap intervensi militer AS pasti akan disertai dengan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.” Pernyataan ini diperkuat oleh Hossein Shariatmadari, pemimpin redaksi surat kabar Kayhan yang dekat dengan Khamenei, yang menyeru serangan rudal terhadap armada angkatan laut AS di Bahrain dan penutupan Selat Hormuz bagi kapal milik AS, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nassirzadeh, juga menegaskan bahwa Iran akan menargetkan pangkalan AS di negara tetangga jika perang dipaksakan. Ia bahkan mengumumkan peluncuran rudal balistik baru bernama Qassem Bassir yang memiliki jangkauan 1.200 kilometer dan kemampuan untuk menembus sistem pertahanan udara AS seperti THAAD dan Patriot.