finnews.id – Trump Ngamuk! AS Ancam Tarif 25 Persen untuk Negara yang Masih Berbisnis dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mengancam pengenaan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran. Keputusan tegas ini diumumkan pada Jumat (6/2/2026), hari yang sama ketika AS dan Iran melakukan perundingan nuklir untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun lebih—yang akhirnya berakhir tanpa terobosan.
Perintah Eksekutif Efektif Segera
Perintah eksekutif yang dikeluarkan Trump tidak menyebutkan besaran tarif final secara spesifik, tetapi menggunakan angka 25 persen sebagai ilustrasi yang mungkin akan dikenakan. Tarif ini akan berlaku untuk semua barang impor dari negara mana pun yang secara langsung atau tidak langsung membeli, mengimpor, atau memperoleh barang atau jasa dari Iran.
“Dimulai sekarang, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif 25 persen untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” ujar Trump melalui akun media sosialnya, seperti dikutip oleh Antara.
Perintah ini dijadwalkan mulai berlaku pada tengah malam hari Sabtu (7/2/2026) waktu setempat. Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan AS ditugaskan untuk menentukan apakah suatu negara asing memenuhi kriteria “berbisnis dengan Iran” setelah perintah tersebut berlaku.
Konteks: Perundingan Nuklir Tanpa Hasil dan Ketegangan Bertambah
Ancaman tarif ini muncul dalam konteks ketegangan yang terus memanas antara AS dan Iran. Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump telah menegaskan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran, termasuk menargetkan ekspor minyak dan program nuklirnya.
Perundingan nuklir yang diadakan hari Jumat (6/2) adalah upaya pertama kedua negara untuk berbicara langsung setelah lebih dari satu tahun. Namun, diskusi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, terutama terkait batasan pengayaan uranium Iran yang terus meningkat—yang AS tuduh sebagai langkah menuju senjata nuklir. Iran sendiri menegaskan program nuklirnya bersifat damai.