Indonesia Tetap Tegas pada Prinsip Non-Blok, Tapi Harus Berdikari
Dalam menghadapi ancaman tersebut, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan non-blok. Negara ini tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun dan akan terus mengedepankan persahabatan dengan seluruh bangsa.
“Filosofi luar negeri saya adalah ‘seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak’,” tegasnya.
Namun, dia juga memberikan pengingat penting: sikap non-blok dan persahabatan global menuntut kemandirian nasional yang kuat.
“Kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita. Percaya sama saya, nobody is going to help us,” katanya, mengutip pesan presiden Sukarno yang menginginkan Indonesia “berdiri di atas kaki sendiri” dan panglima besar Sudirman yang mengajarkan untuk “percaya kepada kekuatan kita sendiri”.
Konteks Sebelum Menjadi Presiden
Sebelum menjabat sebagai presiden, pada September 2024 (saat masih menjabat Menteri Pertahanan dan menjadi Presiden Terpilih), Prabowo juga telah menyampaikan kekhawatiran serupa. Dia menyebut dunia berada dalam “kondisi yang sangat mendekati kemungkinan pecahnya perang Dunia Ketiga” dan menekankan pentingnya mempertahankan status non-blok Indonesia serta meningkatkan kesiapsiagaan pertahanan.
Pernyataan Presiden Prabowo tentang perang Dunia Ketiga mencerminkan kesadaran akan risiko global yang semakin meningkat, terutama terkait senjata nuklir. Dia menekankan bahwa dampak konflik skala besar tidak akan terpaku pada negara yang terlibat saja, sehingga Indonesia harus tetap waspada, mempertahankan netralitas, dan memperkuat kemandirian nasional untuk melindungi kepentingan bangsa.