Inilah sebabnya tren di kalangan remaja cepat berubah. Apa yang hari ini digandrungi, bisa saja besok ditinggalkan.
5. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar dan semangat untuk mencoba hal-hal baru. Tren dianggap sebagai sesuatu yang menarik dan menantang untuk dicoba, terutama jika banyak orang membicarakannya.
Keingintahuan ini sebenarnya positif jika diarahkan dengan baik. Namun, tanpa pendampingan, remaja bisa ikut tren yang kurang bermanfaat atau bahkan berisiko.
6. Kurangnya Filter dan Literasi Kritis
Tidak semua remaja memiliki kemampuan literasi digital dan berpikir kritis yang baik. Akibatnya, mereka sulit membedakan mana tren yang positif dan mana yang hanya bersifat sensasi semata.
Jika tidak dibekali pemahaman yang cukup, remaja cenderung mengikuti tren hanya karena viral, tanpa memikirkan dampaknya bagi diri sendiri.
Remaja gampang ikut tren karena berada pada fase pencarian jati diri, memiliki kebutuhan besar akan penerimaan sosial, serta terpengaruh kuat oleh media sosial dan lingkungan sekitar. Hal ini merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang.
Peran orang tua, pendidik, dan lingkungan sangat penting dalam membimbing remaja agar tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi mampu memilih tren yang positif, bermanfaat, dan sesuai dengan nilai-nilai yang baik.