Meski Luana telah bergerak jauh dari Indonesia, pengaruh tidak langsungnya tetap dirasakan. BMKG mencatat beberapa dampak cuaca yang penting, yaitu:
- Gelombang tinggi sempat terjadi di perairan selatan NTB dengan ketinggian antara 4–6 meter, sehingga BMKG sempat mengeluarkan peringatan zona merah untuk pelayaran di perairan tersebut. Ketika siklon bergerak menjauh, gelombang laut mulai berangsur kondusif di sebagian besar wilayah.
- Kecepatan angin permukaan meningkat di wilayah NTB hingga mencapai sekitar 45 km/jam, meskipun masih berada di luar kategori angin tropis ekstrem.
- Dampak tidak langsung terhadap cuaca di sebagian selatan Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, juga diperkirakan berupa angin kencang dan perubahan pola angin yang bisa memicu cuaca ekstrem lokal seperti hujan lebat, petir, atau gangguan laut. BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan mengambil langkah berjaga-jaga yang tepat.
Mengapa Perkembangan Siklon Tropis Penting Dipantau?
Siklon tropis terbentuk dari kumpulan sistem tekanan rendah di lautan yang mendapat cukup energi dari permukaan laut yang hangat. Ketika kondisi atmosfer mendukung — termasuk suhu laut hangat, kelembapan tinggi, dan angin yang tidak terlalu kuat di lapisan atas — bibit seperti 91S bisa berkembang menjadi siklon tropis yang lebih terorganisir dan signifikan dalam memengaruhi cuaca regional. Monitoring siklon tropis seperti Luana penting untuk mitigasi risiko, terutama bagi aktivitas pelayaran, nelayan, dan komunitas pesisir.
Bibit Siklon Tropis 91S yang terbentuk di Samudera Hindia selatan NTB sejak 21 Januari 2026 telah berkembang menjadi Siklon Tropis Luana pada 24 Januari 2026. Walaupun kini bergerak jauh menuju Australia, dampaknya masih dirasakan di Indonesia, terutama melalui gelombang laut tinggi dan perubahan dinamika cuaca regional. Masyarakat dihimbau agar terus mengikuti informasi resmi dari BMKG terkait perkembangan cuaca ekstrem.