finnews.id – Pada akhir Januari 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa bibit siklon tropis 91S yang sebelumnya terpantau di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah berkembang menjadi Siklon Tropis bernama Luana.
Fenomena ini menjadi perhatian penting dalam dinamika cuaca regional karena pengaruhnya terhadap pola angin, gelombang laut, dan potensi cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia dan perairan sekitarnya.
Awal Terbentuknya Bibit 91S
Bibit siklon tropis 91S pertama kali terdeteksi pada 21 Januari 2026 pukul 13.00 WIB di perairan Samudera Hindia selatan NTB. Sistem ini mulai menunjukkan konsolidasi sirkulasi angin dan aktivitas awan konvektif yang semakin kuat, yang menandakan perkembangan menuju siklon tropis. Selama beberapa hari berikutnya, BMKG terus memantau kondisi sistem ini secara intensif.
Seiring meningkatnya suhu permukaan laut dan kondisi atmosfer yang mendukung, seperti kelembapan tinggi dan shear angin yang relatif rendah, bibit ini berkembang pesat menuju struktur siklon tropis lengkap. Semua syarat pembentukan siklon tropis dilaporkan telah terpenuhi, sehingga pada 24 Januari 2026 pukul 01.00 WIB sistem ini resmi diklasifikasikan sebagai Siklon Tropis “Luana” oleh BMKG.
Karakteristik Siklon Tropis Luana
Setelah dinamai Luana, sistem badai tropis ini menunjukkan intensitas dengan tekanan minimum yang cukup rendah dan kecepatan angin yang meningkat — karakteristik khas sebuah siklon tropis sedang. BMKG menyatakan tekanan udara minimum Luana berada di kisaran 991–993 hPa dengan kecepatan angin maksimum sekitar 40–45 knot di sekitar pusatnya, tergolong dalam kategori awal siklon tropis.
Dalam pergerakannya, Luana kini bergerak ke arah selatan menuju Dampier Peninsula di Australia Barat, sehingga menjauh dari perairan selatan Indonesia. Pergerakan ini membantu mengurangi dampak langsung terhadap wilayah NTB dan sekitarnya, namun sistem tetap aktif dan memengaruhi dinamika atmosfer regional.
Dampak Cuaca dan Peringatan BMKG