Home Entertainment Aurelie Moeremans dan Child Grooming di Indonesia: Ancaman Tersembunyi terhadap Anak
Entertainment

Aurelie Moeremans dan Child Grooming di Indonesia: Ancaman Tersembunyi terhadap Anak

Buku Aurelie Moeremans

Bagikan
Bagikan

Peran Orang Tua

Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan edukasi seksualitas sesuai usia, serta mengawasi aktivitas digital anak tanpa bersikap represif.

Peran Sekolah

Sekolah dapat memasukkan literasi digital dan pendidikan perlindungan diri ke dalam kurikulum.

Peran Pemerintah dan Platform Digital

Pemerintah dan penyedia platform digital harus memperkuat sistem pengawasan, pelaporan, dan penindakan terhadap konten serta akun berbahaya.

Peran Masyarakat

Lingkungan sekitar perlu peka terhadap perubahan perilaku anak dan berani melaporkan indikasi kekerasan atau eksploitasi.

Child Grooming dalam Perspektif Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans

Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans memberikan perspektif personal dan emosional yang kuat terkait pengalaman kekerasan seksual dan proses manipulasi psikologis yang dialami korban. Meskipun buku ini tidak secara khusus menggunakan istilah child grooming sebagai istilah hukum, pola relasi yang digambarkan memiliki kemiripan yang kuat dengan praktik grooming, terutama dalam aspek pembangunan kepercayaan, dominasi emosional, dan perampasan kendali atas korban.

Melalui narasi reflektif dan jujur, Aurelie menunjukkan bagaimana pelaku kekerasan kerap memulai relasi dengan pendekatan yang tampak aman, penuh perhatian, dan menenangkan. Dalam konteks child grooming, pola ini sangat relevan karena pelaku sering kali memanfaatkan kebutuhan emosional korban—termasuk rasa ingin diterima, dicintai, dan dipahami—sebelum akhirnya melakukan eksploitasi.

Broken Strings juga menyoroti dampak jangka panjang dari kekerasan berbasis relasi timpang, seperti trauma, kehilangan rasa aman, dan kesulitan membangun kepercayaan. Hal ini sejalan dengan temuan berbagai studi tentang korban child grooming di Indonesia, yang menunjukkan bahwa luka psikologis sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan kekerasan fisik itu sendiri.

Kehadiran buku ini menjadi penting dalam konteks Indonesia karena membuka ruang diskusi publik tentang kekerasan seksual yang selama ini kerap dibungkam oleh budaya malu dan menyalahkan korban. Broken Strings dapat dibaca sebagai pengingat bahwa child grooming bukan sekadar isu hukum atau teknologi, melainkan persoalan kemanusiaan yang menuntut empati, keberanian bersuara, dan keberpihakan pada korban.

Bagikan
Artikel Terkait
Entertainment

Lara Croft dalam Tomb Raider Versi Terbaru: Ikon Petualangan yang Terus Berevolusi

Perubahan ini menunjukkan upaya pengembang untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif, sekaligus...

Entertainment

Harry Styles Dikabarkan Segera Comeback, Sinyal Era Musik Baru Makin Kuat

Bagi para penggemar, kembalinya Harry Styles bukan sekadar soal musik baru, tetapi...

Entertainment

Kreator Squid Game Siapkan Serial Terbaru, Siap Ulangi Kesuksesan Global

Industri hiburan Korea Selatan sendiri terus berkembang pesat, dan karya terbaru Hwang...

Entertainment

BTS World Tour 2026–2027: Tur Terbesar dalam Sejarah Grup

  FEB–MARCH 2027 — Australia & Asia Timur 12–13 Feb — Melbourne,...