finnews.id – Pemerintah diminta menjamin ruang aman dan melindungi pekerja seni atau komedian dari kriminalisasi. Hal itu diungkapkan Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Bonnie mengungkapkan hal tersebut, menanggapi laporan hukum terhadap komika Pandji Pragiwaksono atas materi stand-up comedy “Mens Rea”.
Menurutnya, kesenian, termasuk komedi, bukan sekadar hiburan, melainkan juga alat kritik dan penyampai suara rakyat yang sering tak terdengar oleh negara.
Ia juga menganggap pelaporan terhadap Pandji Pragiwaksono sebagai ancaman serius bagi ekosistem kebudayaan.
“Jika seniman takut berkarya, maka rakyat kehilangan suara. Negara tidak boleh menghukum imajinasi, karena seni adalah nafas demokrasi,” kata Bonnie, Jumat, 8 Januari 2026.
Seniman di Garis Depan Suarakan Kebenaran
Bonnie juga mengatakan, sejarah Indonesia memperlihatkan seniman selalu berada di garis depan menyuarakan kebenaran.
Seniman besar seperti Teguh Slamet Rahardjo yang mengkritik Orde Baru, hingga seniman Butet Kartaredjasa, menurut dia, menjadi jembatan kritik masyarakat.
Di masa Orde Baru, dia juga menyebutkan sosok seperti Raja Humor Betawi Benyamin Sueb yang melalui karakter “wong cilik” menyindir orang kaya yang serakah, pejabat korup, atau sistem yang tidak adil.
Lalu Warkop DKI yang menyelipkan kritik pada pejabat atau birokrat yang sok kuasa, korup, dan tidak kompeten. Namun, kata dia, sasaran kritik Warkop DKI lebih banyak ke sistem kecil, bukan langsung menunjuk pada pusat kekuasaan, karena sebagai strategi bertahan di era sensor ketat saat itu.
Dia mengatakan bahwa tradisi kritik sosial melalui komedi terus berevolusi dan harus dijaga, mulai dari lawakan sosial grup Srimulat di era 80-an, hingga generasi komika stand-up modern seperti Abdur Arsyad dan Pandji Pragiwaksono.
“Mereka adalah penerus estafet yang menyampaikan kegelisahan publik,” kata dia.
Kebebasan Berekspresi Alat Produksi Utama Pekerja Seni
Menurut dia, kebebasan berekspresi adalah alat produksi utama pekerja seni. Membungkam kritik dengan ancaman hukum hanya akan menciptakan iklim ketakutan yang mematikan kreativitas.