Keduanya diduga lalai dalam menjalankan prosedur keselamatan pelayaran. Selain itu, penyidik juga menelusuri kemungkinan pelanggaran teknis kapal, kesiapan alat keselamatan, serta keputusan berlayar di tengah potensi cuaca buruk.
Desakan Publik dan Evaluasi Keselamatan
Pasca-kejadian, muncul desakan dari masyarakat dan aktivis pariwisata agar pihak terkait, termasuk otoritas pelabuhan dan Kesyahbandaran, turut dievaluasi. Publik mempertanyakan proses pemberian izin berlayar, terutama jika peringatan cuaca dari BMKG sudah dikeluarkan sebelumnya.
Tragedi ini kembali membuka diskusi lama soal standar keselamatan kapal wisata di Labuan Bajo, destinasi super prioritas yang setiap tahunnya dikunjungi ribuan wisatawan domestik dan mancanegara.
Catatan Penting untuk Pariwisata Bahari
Kecelakaan kapal di Labuan Bajo bukan kali pertama terjadi. Perubahan cuaca yang cepat, kondisi kapal yang tidak optimal, serta lemahnya pengawasan sering disebut sebagai faktor risiko utama. Tanpa evaluasi menyeluruh, kejadian serupa dikhawatirkan dapat terulang.
Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk memperketat pengawasan kelaikan kapal, kompetensi awak, serta kepatuhan terhadap peringatan cuaca, demi menjamin keselamatan wisatawan dan menjaga reputasi pariwisata Indonesia di mata dunia.
Tragedi kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo menjadi pengingat keras bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam industri pariwisata. Proses hukum yang transparan dan pembenahan sistemik diharapkan mampu mencegah jatuhnya korban di masa depan.