Kalau ada negara melanggar ketentuan negara itu terjadi di ruas Medan-Berastagi dan seterusnya itu. Anda sudah tahu: ketentuan pemerintah, standar yang disebut jalan negara itu minimal harus 7 meter.
Dengan jalan seperti itu, dengan lalu-lintas bercampur truk dan tronton, hanya penyabar penganut Yesus yang bisa tahan.
Maka ruas Medan-Berastagi pun terasa seperti paru-paru terkena Covid. Berastagi adalah pusat buah, sayur, dan holtikultura Sumut. Setara dengan Pangalengan di Jabar. Atau Batu di Jatim.
Anda yang ketika Orde Baru sudah rajin mendengar berita RRI, nama Berastagi selalu jadi ukuran nasional: selalu disebut berapa harga cabe keriting di Berastagi hari itu.
Tentu negara sudah banyak memberi jalan ke Sumut. Jalan tol lama Medan-Belawan dan juga Medan-Kualanamu sudah disambung oleh Presiden Jokowi: Kualanamu-Siantar.
Saya sudah merasakannya setelah pulang dari bernatal di Sidikalang. Yang Medan-Belawan sudah disambung sampai Binjai. Saya belum ada kesempatan mencobanya.
Tapi Medan-Berastagi sungguh sangat mendesaknya.
Sebenarnya para ahli perencanaan di Universitas Sumatera Utara (USU) sudah membuat studi awal. Utamanya dari teknik sipil. Dipimpin Prof Dr Johannes Tarigan. Saya sudah membaca hasil prastudi setebal bantal itu.
Panjang jalan tol itu cukup 66 km –12 km di antaranya berupa jalan layang. Pilihan-pilihan rutenya pun sudah disiapkan. Empat pilihan. Tapi yang paling direkomendasikan adalah dari Tanjung Merawa ke Berastagi.
Artinya: di tengah tol ruas Medan-Kualanamu –di Tanjung Merawa– dibuatkan exit ke arah Berastagi. Dengan demikian sekalian orang dari Berastagi yang akan ke bandara bisa lebih dekat. Ini dinilai lebih tepat dibanding pilihan pertama: dibuatkan exit di Helvetia, di jalan tol antara Medan-Binjai.
Di prastudi itu diusulkan adanya tiga exit: Pancur Batu, Sibolangit dan Sempajaya –sebelum akhirnya sampai ke Berastagi di kaki gunung kembar, si dua Si: Sinabung dan Sibayat.
Di tengah mempelajari prastudi Tim USU itu saya mendapat kiriman copy surat. Yang berkirim surat gubernur Sumut yang Anda kenal itu: Muhammad Bobby Afif Nasution. Tertanggal 31Juli 2025. Berarti masih baru. Ia mengusulkan pembangunan jalan tol yang saya maksud. Klop.