Home Tekno ChatGPT Selamatkan Nyawa Remaja dari Penyakit Langka setelah Dokter Salah Diagnosa
Tekno

ChatGPT Selamatkan Nyawa Remaja dari Penyakit Langka setelah Dokter Salah Diagnosa

Bagikan
Ambulance, Image: DirkVE / Pixabay
Bagikan

finnews.id – Seorang remaja berhasil menyelamatkan nyawanya sendiri setelah memanfaatkan ChatGPT untuk mendiagnosa penyakit serius, setelah diagnosis awal dari dokter dinilai kurang tepat.

Kahlan Eales, 17 tahun, awalnya diberi tahu bahwa gejalanya hanyalah masalah sirkulasi darah biasa, namun ternyata ia menderita kondisi yang dapat mengancam nyawanya.

Kondisi Awal dan Gejala yang Dialami Kahlan

Kahlan mengalami kelemahan fisik dan kesulitan pulih dari flu biasa. Ia pertama kali mengunjungi dokter umum dan diberitahu menderita Raynaud’s syndrome, sebuah kondisi yang memengaruhi sirkulasi darah.

Ia disarankan untuk tetap hangat dan menggunakan sarung tangan. Namun, gejalanya semakin memburuk, termasuk kaki yang berubah biru dan kesulitan bergerak.

Penggunaan ChatGPT untuk Diagnosa Mandiri

Merasa ada yang tidak beres, Kahlan kemudian memeriksa gejalanya melalui ChatGPT saat dalam perjalanan pulang dari menemui pacarnya.

AI tersebut memberikan kemungkinan bahwa ia menderita Guillain-Barre syndrome (GBS), kondisi autoimun di mana sistem kekebalan menyerang saraf tubuh, yang bisa menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan kelumpuhan fatal.

Diagnosis yang diberikan ChatGPT kemudian dikonfirmasi oleh dokter di rumah sakit.

Kahlan segera dibawa ke Bristol Royal Infirmary untuk perawatan plasma darurat.

Saat ini ia telah dipindahkan ke Gloucestershire Royal Hospital dan diperkirakan akan segera keluar dari rumah sakit.

Pengalaman Kahlan dan Pesan untuk Orang Lain

Kahlan, mahasiswa hukum dan kriminologi di Cirencester College, mengungkapkan bahwa ChatGPT biasa digunakan untuk tugas sekolah dan pertanyaan sehari-hari.

Ketika gejalanya memburuk, ChatGPT memberikan kemungkinan GBS, dan rumah sakit mengonfirmasi hasil tersebut.

Ia menyatakan bahwa penyakit ini dapat menyebabkan berhentinya pernapasan jika tidak segera ditangani.

Kasus ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat bantu dalam mengenali penyakit, terutama ketika gejala awal tidak jelas atau diagnosis awal dokter kurang tepat.

Pengalaman Kahlan menjadi peringatan bagi pasien untuk lebih waspada terhadap kondisi kesehatan mereka sendiri.

Bagikan
Artikel Terkait
Tekno

Project Helix Resmi Diumumkan, Xbox Siap Tampil Lebih Kuat

finnews.id – Microsoft baru-baru ini mengonfirmasi pengembangan konsol Xbox generasi terbaru dengan...

Tekno

Samsung Indonesia Resmi Buka Pre Order Galaxy S26 Series Rp600 Ribu-an

finnews.id – Samsung Electronics Indonesia membuka secara resmi momen pre-order Galaxy S26...

LifestyleTekno

MUA: Solusi Baru LDR! Kamu bisa CIUMAN dengan Pasangan Kapan pun

finnews.id – Menjalin hubungan asmara Jarak Jauh atau biasa dikenal dengan Long...

Tekno

Infinix Note 60 Ultra Meluncur dengan Kamera 200 MP dan Fitur Satelit

finnews.id – Infinix resmi menggebrak panggung Mobile World Congress (MWC) 2026 di...