Catatan Dahlan Iskan

Parade Kalkun

Bagikan
Bagikan

Ja’far Syahidan

Ahahaha. Ini menarik. Kalau patokannya saklek pada pesan wasiat secara letterlijk, ketiganya durhaka, karena tetap dagang mie rebus. Tapi jika patokannya adalah pesan tersirat di balik wasiat, yaitu agar jangan mewariskan kemiskinan kepada keluarga, maka ketiganya berhasil memenuhi wasiat sang ayah 🙂

Murid SD Internasional

Sebelum ajal tiba, seorang ayah yang seumur hidupnya berdagang mie rebus di gerobak kecil-kecilan di pinggir jalan, berwasiat begini kepada ketiga puteranya. “Kalian bertiga tidak boleh seperti Ayah, yang cuma berjualan mie rebus di gerobak kecil-kecilan, dan seumur hidup Ayah cuma bisa mewariskan kemelaratan kepada kalian dan kepada ibu kalian. Pegang kuat-kuat wasiat Ayah dan janganlah sekali-kali kalian durhaka melawan wasiat Ayah”. Ketiga puteranya, sembari menggenggam jemari sang Ayah, mengangguk serempak. Sang Ayah pun menghembuskan napas terakhir dengan senyum bibir mengembang. Meninggalkan dunia dengan tenang. 10 tahun berlalu. Si putera mbarep (sulung), dagang mie rebus gerobakan, tapi jumlahnya sudah persis armada perang: 300 gerobak! 300 karyawan! Menyebar ke seantero kota! Sehari bisa raup omzet nyaris Rp300 juta! Untung bersih per harinya di kisaran Rp125 juta! Si putera kedua, dagang mie rebus juga, tapi dalam bentuk resto premium dan berwaralaba! Menggurita sampai ke pelosok Nusantara! Profit bersih Rp3 miliar hingga Rp5 miliar bisa didapat tiap bulannya! Si putera ragil (bungsu), dagang mie rebus juga! Tapi bikin pabriknya sekalian pula! Tembus ekspor ke 3 benua! Melayani 54 negara! Laba bersih tiap kuartal triliunan rupiah banyaknya! Pertanyaannya… Apakah ketiga putera ini, semuanya durhaka, terhadap pesan wasiat bapaknya?

Liam Then

Beberapa saat lalu, habiskan waktu sekitar 20an menit, nonton video dikanal YouTube @johnyharris. Isinya tentang perbedaan gaya hidup orang Amerika yang punya kekayaan 100jt,1 miliar,kemudian 100 miliar USD. Bedanya sungguh kontras, tapi ada kecenderungan sama. Mereka rupanya pakai sistem “buy, borrow, die”. Kekayaan mereka dalam bentuk saham asset bernilai tinggi, kemudian jika mereka perlu uang, misal 10jt dollar, saham mereka dijadikan agunan ke bank, katanya suku bunga bisa sangat murahnya karena asset/saham mereka yang bernilai tinggi, menjamin mereka bisa dapat suku bunga sangat murah. Uang yang mereka dapat dari hasil meminjam itu, karena dalam bentuk pinjaman, jadi bebas pajak (di sana). Karena asset/saham mereka tetap tumbuh per-tahun melebihi kewajiban bunga pinjaman, mereka tak pusing bayar cicilan dan pinjamannya. Bayangkan duit cash mereka yang mereka dapat dari menggadaikan asset portofolio saham mereka dengan suku bunga murah, dapat full tanpa dikenai pajak, kemudian dibelikan bond terbitan pemerintah RI yang bunganya relatif tinggi. Bukankah mereka langsung untung? Selisinya untuk bond 3 tahun saja sudah 1,5%. Bond 10 tahun bahkan beda s/d 2,5%. Kalau skenario ini nyata, bukannya ini praktis pemerintah RI biayai gaya hidup mereka? Jadi, pemerintah RI harusnya kerja keras, supaya tak jadi keledai hela, sehingga ekonominya menggelora, otomatis yield bondnya bisa makin murah. Makin negara kaya, makin murah biaya meminjamnya.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Bawazier Soedomo

Kholid setuju dengan ide itu. Dibangunlah pabrik di Jeddah. Lokasinya hanya sekitar...

Catatan Dahlan Iskan

Empat Dimensi

Warga Puerto Rico adalah warga negara Amerika Serikat. Meski secara formal ibu...

Catatan Dahlan Iskan

Rehabilitasi Ira

Di BUMN terlalu banyak orang kuat. Termasuk para komisaris utama. Banyak pula...

Catatan Dahlan Iskan

Jembatan Merah  

Usai makan saya ke pantai kecilnya. Berpasir. Sambil kaki menyampari paris mata...