Catatan Dahlan Iskan

Parade Kalkun

Bagikan
Bagikan

Muh Nursalim

Tidak untuk.menjadi pegawai. Itu tujuan pendidikan pondok gontor. Punya ijazah memang untuk ngelamar pegawai. Negeri maupun swasta. Yg tak berijazah ” terpaksa” jd pengusaha. Nanti yg berijazah jd pegawainya yg tak punya ijazah. Nah, gontor ndak mau ujian persamaan. Ia ngeluarkan ijazah sendiri dg kurukulum yg dibuat sendiri. Mulanya ijazahnya ndak laku. Di mana mana. Lama2 karena secara kualitas memang kompeten di bidang ilmunya akhirnya laku juga. Bahkan negara mengakomodasi pesantren sejenis di mana2 dg mengeluarkan undang2 pesantren.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

KETIKA SARUNG BERTEMU MIE, LAHIRLAH WAZARAN.. Tulisan pak Dahlan di CHDU hari ini lagi-lagi bikin saya manggut-manggut sambil senyum Bisnis besar memang sering lahir dari langkah kecil—bahkan dari 100 kardus mie. Kisah Kholid Bawazier mengajarkan bahwa intuisi dagang kadang lebih tajam dari gelar akademik. Disuruh tak kuliah, malah kuliahnya langsung di “Universitas Pasar”. Lucunya, dari sarung, jamur, tuna, sampai mie instan, semua naik kelas ke level global. Dari Jalan Sasak, Ampel, tembus delapan negara. Ini baru definisi go international yang tanpa seminar Motivator Level Platinum. Yang paling saya hormati, konsistensi etik. Sudah tahu semua rahasia dapur mie, tapi tetap setia bermitra dengan Indomie dan keluarga Kapal Api. Tidak tergoda bikin merek sendiri. Di dunia bisnis yang penuh sikut, ini akhlak langka. Dan satu hal lagi, soal warisan yang dibagi adil ke saudara perempuan. Ini bukan cuma strategi bisnis, ini strategi menjaga keluarga tetap utuh. Pesannya jelas, rezeki itu bukan soal cepat, tapi soal tepat—dan taat.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

LOGISTIK JAUH, NAPAS PANJANG.. Yang paling bikin saya kagum dari kisah paj Kholid Bawazier justru bukan mie dan kopinya, tapi daya tahan napas bisnisnya. Bayangkan, ikan dari Bitung dibawa ke Cirebon, lalu diekspor lagi lewat Bitung. Secara akal sehat itu terdengar seperti muter-muter cari bensin. Tapi di dunia usaha, kadang yang “tidak masuk akal” justru penyelamat. Saat kebijakan menteri berubah dan pabrik tutup, Kholid tidak mengeluh di media sosial. Ia bangun pabrik lagi. Ketika aturan ganti, ia rela menghentikan investasi baru meski sudah keluar banyak uang. Ini bukan soal untung rugi jangka pendek, ini soal bertahan hidup jangka panjang. Saya juga melihat satu pola menarik, diaspora pengusaha Indonesia di luar negeri sering justru lebih berani mengambil risiko industrial daripada yang di dalam negeri. Dari Arab Saudi, bisnisnya menyeberang ke Timur Tengah, Afrika, sampai Eropa. Ini bukan ekspor barang saja, ini ekspor mental baja. Tulisan pak Dahlan Iskan di CHDI hari ini seperti mengingatkan: pengusaha sejati itu tidak hanya menghitung laba, tapi juga siap kalah tanpa tumbang. Dan itu tidak diajarkan di bangku kuliah mana pun.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Bawazier Soedomo

Kholid setuju dengan ide itu. Dibangunlah pabrik di Jeddah. Lokasinya hanya sekitar...

Catatan Dahlan Iskan

Empat Dimensi

Warga Puerto Rico adalah warga negara Amerika Serikat. Meski secara formal ibu...

Catatan Dahlan Iskan

Rehabilitasi Ira

Di BUMN terlalu banyak orang kuat. Termasuk para komisaris utama. Banyak pula...

Catatan Dahlan Iskan

Jembatan Merah  

Usai makan saya ke pantai kecilnya. Berpasir. Sambil kaki menyampari paris mata...