finnews.id – Afrika Selatan (Afsel) sedang menyelidiki sebuah penerbangan carteran “misterius” yang membawa 153 pengungsi Palestina ke negara itu tanpa dokumen yang diperlukan, Kamis, 13 November 2025.
“Mereka adalah orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius ditempatkan di pesawat yang melewati Nairobi (ibu kota Kenya) dan tiba di sini,” kata Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, Jumat, 14 November 2025.
Ia juga mengatakan, badan intelijen dan Departemen Dalam Negeri Afsel sedang menyelidiki masalah ini.
Pada Kamis, Afsel memberikan pembebasan visa 90 hari bagi 153 warga Palestina yang tiba dari Kenya untuk mencari suaka di negara itu.
Meskipun mereka awalnya ditolak masuk, karena tidak lulus wawancara yang diwajibkan dan tidak memiliki stempel keberangkatan yang lazim di paspor mereka.
Para pengungsi Palestina menunggu lebih dari 10 jam di landasan Bandara Internasional OR Tambo dekat Johannesburg untuk mendapatkan izin atau ditolak.
Berita ini memicu kemarahan di kalangan aktivis di negara tersebut yang dikenal sebagai pendukung kuat hak-hak Palestina.
“Selama proses tersebut, petugas BMA (Otoritas Manajemen Perbatasan) menemukan tidak adanya stempel keberangkatan di beberapa paspor mereka, serta fakta bahwa sejumlah pelancong tampaknya tidak memiliki tiket pulang atau alamat akomodasi mereka di Afrika Selatan,” jelas Kementerian Dalam Negeri Afsel dalam sebuah pernyataan tertulis.
Disebutkan bahwa pada saat izin masuk diberikan, 23 pengungsi dari kelompok tersebut telah melanjutkan penerbangan ke tujuan lain.
Pengungsi Palestina Datang dari Gaza
Sementara itu, Kedutaan Besar Palestina di Afrika Selatan juga menggarisbawahi di media sosial bahwa 153 warga Palestina datang “dari Gaza melalui Bandara Ramon melalui Nairobi tanpa pemberitahuan atau koordinasi sebelumnya.”
Disebutkan bahwa penerbangan tersebut diatur oleh “organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan.”
Kedubes mencatat bahwa organisasi tersebut “memanfaatkan kondisi kemanusiaan yang tragis” orang-orang di Gaza, “menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab.”
“Entitas ini kemudian berusaha melepaskan tanggung jawab apa pun setelah timbul komplikasi,” tambahnya.
Israel Dituding Berada di Balik Eksodus Ilegal Pengungsi Palestina
Imtiaz Sooliman, pendiri kelompok kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada penyiar Afrika Selatan SABC bahwa Israel harus disalahkan atas masuknya pengungsi Palestina yang tidak terkoordinasi ke negara itu.
“Sayangnya, ini terdengar sangat jahat. Ini bukan penerbangan pertama; ini penerbangan kedua. Ini tampaknya merupakan upaya terkoordinasi dari Israel untuk melakukan proses pembersihan etnis,” ujarnya.
Ia mencatat bahwa orang-orang membayar “harga yang mahal kepada organisasi-organisasi Israel” dan kemudian dipindahkan ke Shalom dan ke pangkalan militer Ramon, untuk selanjutnya mereka diterbangkan ke berbagai negara.
“Sebagian besar dari mereka di pesawat pertama bahkan tidak tahu ke mana mereka akan pergi dan tentu saja, tidak ada stempel keluar dan ketika mereka sampai di negara asing, mereka semakin dipermalukan dan semakin kesulitan, seperti yang terjadi di Afrika Selatan,” tambah Sooliman.