Finnews.id – Kabar baik untuk profesional muda Indonesia yang ingin memperluas karir ke luar negeri. Pemerintah China resmi memperkenalkan “Visa K”.
Ini jenis visa baru yang memberikan kemudahan luar biasa bagi talenta global di bidang sains, teknologi, pendidikan, dan budaya untuk bekerja di negara tersebut. Menariknya, gak perlu sponsor dari perusahaan lokal.
Program ini resmi dirilis pada 1 Oktober 2025. Ini bagian dari strategi besar China memperkuat posisinya sebagai pusat sains dan teknologi dunia. Sekaligus menandingi dominasi Amerika Serikat (AS) dalam industri teknologi global.
Melalui kebijakan ini, China berharap bisa menarik para peneliti, ilmuwan, hingga wirausaha teknologi dari seluruh dunia. Termasuk Indonesia.
Media resmi pemerintah, People’s Daily, menulis langkah ini diambil sebagai respons atas kebijakan proteksionis dari negara-negara Barat yang menutup akses bagi pekerja asing.
“Ketika negara lain fokus pada kepentingan domestik, China justru membuka diri bagi talenta internasional. Ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat kolaborasi global,” tulis People’s Daily seperti dikutip finnews.id pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Visa K: Tanpa Sponsor, Multi-Entry, Proses Super Cepat
Berbeda dari kebanyakan visa kerja lainnya. Visa K tidak memerlukan undangan dari pemberi kerja di China.
Artinya, warga negara Indonesia dapat mengajukan secara mandiri. Tanpa harus menunggu kontrak kerja terlebih dahulu.
Menurut laporan Xinhua News Agency, visa ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya:
- Multi-entry visa (bisa keluar-masuk beberapa kali tanpa batasan ketat).
- Masa berlaku panjang, cocok untuk proyek penelitian dan startup internasional.
- Proses pengajuan lebih cepat dan efisien, dengan sistem verifikasi digital.
“Visa K menawarkan fleksibilitas tinggi bagi pemegangnya. Mulai dari durasi tinggal hingga akses lintas sektor,” tulis Xinhua.
Siapa yang Bisa Mendaftar Visa K China
Program ini menargetkan “talenta sains dan teknologi muda global.” Artinya, profesional yang berusia produktif dengan latar belakang akademik kuat, pengalaman di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), serta potensi riset atau inovasi berpeluang besar untuk lolos.