Dari sisi distribusi dan kualitas beras, Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan pihaknya berkomitmen menjaga mutu produk yang disalurkan kepada masyarakat.

“Kemungkinan dengan nanti periode 2 bulan lagi, ini kan sudah panen baru lagi. Dengan harapan yang ini keluar, nanti yang 2 bulan lagi panen, kita sudah bisa menyerap lagi. Serapan ke depan ini estimasinya sekitar 1 juta ton,” jelas Rizal di kantor Perum Bulog pada Selasa, 2 September 2025.

Ia menekankan seluruh proses distribusi dilakukan dengan ketat agar kualitas beras tetap terjaga.

Menurut Rizal, keberadaan stok yang cukup saat ini sekitar 3,9 juta ton. Ini menjadi modal penting untuk menjaga kestabilan harga.

Selain itu, Bulog juga aktif menyalurkan bantuan pangan. Untuk periode Juni hingga Juli, realisasi penyaluran mencapai 99 persen, menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Pengendalian Inflasi Pangan

Sebulan terakhir harga beras mengalami tren kenaikan. Hal ini membuat masyarakat berteriak karena harganya semakin melejit.

Beras medium naik sekitar 0,67% menjadi Rp 15.100 per kg. Sementara beras premium naik 0,060% jadi Rp 16.800 per kg.

Untuk harga dipasaran, pemerintah menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1,3 juta ton melalui tujuh jalur distribusi.

Termasuk pasar rakyat, koperasi, outlet binaan pemda, Gerakan Pangan Murah, hingga ritel modern.

Berdasarkan sejumlah sumber, penyebab dari mahalnya harga beras belakangan ini, karena distribusi dilapangan yang belum optimal.

Dengan kesulitan yang terjadi di masyarakat, lewat sejumlah Kementerian dan Lembaga, seperti Kementerian Pertanian dan Badan Urusan Logistik (BULOG) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 7.285 kecamatan di seluruh Indonesia pada Sabtu, 30 Agustus 2025 lalu.

Operasi pangan murah ini juga dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia ke-80.

Pada kegiatan ini lebih dari 43.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) didistribusikan.