finnews id – Jumlah korban akibat gempa bumi di Myanmar terus meningkat. Hingga Rabu, 2 April 2025, jumlah korban tewas mencapai 2.800 orang, sementara lebih dari 4.600 lainnya mengalami luka-luka.
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo itu mengguncang wilayah tengah Myanmar pada Jumat lalu.
Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah, mengingat banyak orang yang masih terjebak di bawah reruntuhan di Mandalay, kota terbesar kedua di negara tersebut.
Di sisi lain, tiga kelompok bersenjata etnis minoritas yang tergabung dalam sebuah aliansi mengumumkan gencatan senjata sepihak selama satu bulan dalam konflik mereka melawan militer. Keputusan ini diambil sehari sebelumnya untuk mendukung upaya kemanusiaan pascagempa.
Aliansi Tiga Bersaudara, yang terdiri dari Tentara Arakan, Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang, menyatakan pada Selasa bahwa mereka sepakat menghentikan pertempuran guna memperlancar operasi penyelamatan dan bantuan.
Selain itu, pemerintahan paralel yang dibentuk oleh anggota pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi—yang digulingkan dalam kudeta Februari 2021—juga mengumumkan gencatan senjata sepihak pada Sabtu.
Namun, pihak militer belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangannya. Laporan media setempat menyebutkan bahwa serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai oposisi, termasuk kelompok pemberontak etnis minoritas dan Pemerintah Persatuan Nasional, masih terus berlangsung.
Pada Rabu, Junta mengumumkan bahwa lebih dari 1.500 anggota tim penyelamat asing telah dikerahkan untuk membantu operasi evakuasi pascagempa di Myanmar.
Di hari yang sama, tim medis dari Jepang tiba di Yangon untuk mengirim bantuan darurat, termasuk perlengkapan sanitasi, air bersih, dan alat pemurni air.