finnews.id – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengungkapkan bahwa kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa saat ini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan.
Wilayah pesisir pulau Jawa ini menghadapi tekanan serius, akibat kombinasi penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut.
Menurutnya, fenomena penurunan tanah terjadi dengan kecepatan sekitar 1 hingga 20 sentimeter per tahun.
“Sekali lagi saya ingin menyampaikan telah terjadi penurunan permukaan tanah 1 (cm) hingga 20 cm setahun. Paling buruk terjadi di Jakarta dan juga Semarang. Tetapi, di daerah-daerah lainnya juga terus terjadi land subsidence atau penurunan permukaan tanah,” ungkap AHY kepada wartawan.
Selain itu, kenaikan permukaan laut yang dipicu oleh perubahan iklim turut memperparah situasi.
Air laut tercatat naik sekitar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun, yang berdampak langsung pada meningkatnya frekuensi banjir rob di kawasan pesisir.
“Bisa dikatakan ini sebagai twin pressure, tekanan ganda, terjadi kenaikan permukaan air laut. Rising sea level ini juga mengkhawatirkan akibat pemanasan global,” jelasnya.
Ancaman Nyata bagi Masyarakat dan Infrastruktur
Dampak dari kondisi ini sudah dirasakan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah pesisir.
Banjir rob menjadi semakin sering terjadi dan berpotensi merusak permukiman, fasilitas umum, hingga infrastruktur vital.
Tak hanya itu, krisis air bersih juga mulai mengintai. Di satu sisi wilayah mengalami kelebihan air akibat banjir, namun di sisi lain masyarakat justru kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
“Bukan hanya menghadapi kelebihan air dalam bentuk banjir, tetapi juga kelangkaan dan krisis air. Ini juga harus kami tangani secara serius,” ucapnya.
Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi bencana yang lebih besar di masa depan.
Bahkan, proyeksi hingga tahun 2050 menunjukkan risiko penggenangan wilayah pesisir akan semakin luas tanpa adanya intervensi yang tepat.