finnews.id – Ketegangan di Kota Tua Yerusalem kembali meningkat setelah pemukim Israel memasang pintu besi di salah satu kawasan strategis. Langkah ini memicu kekhawatiran karena dinilai membatasi pergerakan warga Palestina sekaligus mengubah karakter wilayah bersejarah tersebut.
Laporan dari kantor berita WAFA menyebut pemasangan pintu besi terjadi di antara kawasan Pasar Pedagang Kapas (Suq al-Qattanin) dan Gerbang Besi (Bab al-Hadid) pada Rabu, 15 April 2026.
Lokasi Strategis di Kota Tua
Otoritas Yerusalem menjelaskan bahwa pintu tersebut berdiri di dekat Asosiasi Pemuda Kota Tua, yang lokasinya bersebelahan dengan Lapangan Zorba. Kawasan ini sebelumnya telah dikuasai oleh pemukim Israel.
Keberadaan pintu besi di titik tersebut dinilai bukan sekadar perubahan fisik, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat setempat.
Dinilai Ubah Karakter Kawasan Bersejarah
Otoritas setempat menilai langkah ini sebagai bentuk serangan terhadap situs bersejarah. Selain itu, pemasangan pintu juga dianggap sebagai upaya mengubah karakter kawasan Kota Tua Yerusalem.
Menurut laporan, pemukim Israel memanfaatkan area sekitar untuk menjalankan ritual keagamaan. Aktivitas ini disebut sebagai bagian dari upaya menciptakan realitas baru di kawasan tersebut.
Mobilitas Warga Palestina Terbatas
Pintu besi yang dipasang tersebut berdampak langsung pada warga Palestina. Akses mereka di area tersebut menjadi terbatas, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari di kawasan Kota Tua.
Situasi ini mendorong warga untuk mengambil langkah protes. Sejumlah warga mendatangi polisi Israel dan meminta agar pintu tersebut segera dicabut.
Polisi Bantah Terlibat
Meski mendapat desakan dari warga, polisi Israel menyatakan tidak terlibat dalam pemasangan pintu besi tersebut. Selain itu, pihak kepolisian juga tidak mengambil tindakan untuk mencabutnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran lanjutan karena tidak adanya respons konkret terhadap keluhan masyarakat.
Dikhawatirkan Bagian dari Kebijakan Sistematis
Sumber-sumber lokal memperingatkan bahwa langkah ini bukan kejadian terpisah. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk mengendalikan ruang publik di Kota Tua.
Selain itu, warga Palestina juga menilai kebijakan ini berpotensi merusak nilai historis kawasan yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas Yerusalem.