finnews.id – Tottenham Hotspur kini berada di persimpangan penting setelah memutuskan hubungan dengan Thomas Frank akibat performa buruk yang membuat klub berada di posisi 16 klasemen Premier League. Frank hanya meraih dua kemenangan dalam 17 laga terakhir, dan kekalahan 2-1 dari Newcastle menjadi titik puncak keputusan manajemen untuk mengganti pelatih. Keputusan ini membuka peluang bagi mantan pelatih Spurs, Mauricio Pochettino, untuk kembali ke klub yang pernah membawanya ke final Liga Champions 2019.
Peluang Kembalinya Pochettino setelah Kontrak di AS Berakhir
Pochettino, yang saat ini menangani timnas Amerika Serikat, dikabarkan terbuka untuk kembali menangani Spurs setelah kontraknya di AS berakhir pasca-Piala Dunia 2026. Dalam sebuah wawancara di High Performance Podcast, ia menyatakan, “Ini adalah klub yang seharusnya berada di Liga Champions, mencoba percaya bahwa Anda bisa memenangkan Liga Champions, dan juga berjuang untuk Premier League serta percaya bisa menjuarai Premier League.” Pernyataan ini disambut hangat oleh para penggemar, yang bahkan menyanyikan nama Pochettino saat laga terakhir Spurs.
Kandidat Lain dan Strategi Sementara Spurs
Selain Pochettino, nama lain yang masuk kandidat pelatih baru adalah Roberto De Zerbi, Marco Silva, Xavi Hernandez, serta legenda klub Jurgen Klinsmann. De Zerbi, mantan pelatih Marseille, menjadi favorit para bandar taruhan, sementara Klinsmann yang sudah tidak menangani klub sejak 2024, juga dianggap memiliki kapasitas untuk kembali memimpin Spurs. Pilihan internal seperti John Heitinga, asisten Frank, mungkin menjadi solusi sementara hingga pelatih baru ditentukan.
Kritik Taktik Thomas Frank
Keputusan memecat Frank muncul setelah manajemen klub mengamati performa yang stagnan dan taktik yang dianggap tidak efektif. Laporan dari Dean Scoggins menyoroti bahwa Frank sering menggunakan formasi 4-2-3-1 yang monoton dan tidak memaksimalkan potensi pemain seperti Xavi Simons, Wilson Odobert, dan Dominic Solanke. Pola permainan lambat dari lini tengah hingga serangan dinilai gagal membangun serangan progresif dan mengandalkan set-piece sebagai sumber ancaman utama. Kritik ini menekankan bahwa krisis performa Spurs bukan semata karena cedera atau kesalahan perekrutan, melainkan keputusan taktikal yang diterapkan Frank selama musim ini.