Catatan Dahlan Iskan

Bulan Bulat

Catatan Dahlan iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Math’am Jawa Jadid, –Anda sudah tahu artinya: Resto New Jawa. Hanya satu langkah dari hotel tempat saya menginap –langkahnya Hulk.

 

Awalnya bukan resto itu sendiri yang menarik perhatian saya. Obrolan mereka yang makan di situlah yang memancing perhatian –ups … mereka belum makan. Baru akan makan.

Saya juga ingin makan. Mereka pun minta saya duduk di ujung meja panjang. Di halaman terbuka depan. Lebih sejuk. Lebih lapang.

Saya pun serasa kembali muda. Mereka memang anak-anak muda. Pakaian mereka hitam-hitam tapi dari bahan dan potongan yang modern. Atraktif. Saya akan ceritakan siapa mereka di Disway besok.

 

Setelah duduk barulah saya menengok ke papan nama resto itu: New Jawa –sebagai terjemahan dari bahasa Arab di foto.

“Mana Bu Dahlan?” tanya mereka.

“Beliau sedang ikut city tour,” jawab saya. “Ke kebun kurma…”.

Saya mengucapkan ”kebun kurma” dengan agak lirih –agak tersekat di tenggorokan. Terlalu pahit untuk mengenangnya. Delapan tahun lalu dada saya sesak sepulang dari kebun kurma yang sama. Perut terasa kembung berlebihan. Napas tersengal. Punggung nyeri.

Saya terlalu banyak makan kurma mentah setengah matang di kebun itu.

 

Selebihnya Anda sudah tahu: saya dilarikan ke rumah sakit di Madinah ini. Di situ saya mengaku kena serangan jantung. Ternyata dokter bilang jantung saya excellence. Saya disuruh pulang ke hotel. Saya menolak. Dada terlalu sakit. Napas terlalu tersengal.

Saya tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Makkah. Anak-cucu yang minta saya terbang pulang bersama ibu dan nenek mereka. Bisa saja pembuluh darah saya pecah di penerbangan pulang sembilan jam itu. Saya berani terbang pulang justru karena tidak tahu potensi bahaya besarnya itu.

Tiga hari saya masuk RS di Surabaya. Tidak ditemukan apa pun. Sampai Robert Lai, soulmate saya di Singapura, memaksa saya ke sana.

Diketahuilah: terjadi aorta dissection –pembuluh darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung bisa diselamatkan.

 

Beberapa kali ke Madinah setelah itu saya tidak pernah ikut city tour lagi. Bukan salah kurma. Salah saya sendiri. Juga ”salah”-nya Madinah: kenapa kota ini kian menarik. Kian modern. Kian bersih. Kian tertata. Kian banyak kafenya.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Buka Blak

Oleh: Dahlan Iskan Siapa yang “kecopetan” terbanyak di krisis bursa saham belakangan...

Catatan Dahlan Iskan

Ibadah Stres

Oleh: Dahlan Iskan Kalau saja permintaan MSCI dipenuhi,apa saja yang akan berubah...

Catatan Dahlan Iskan

PT Bukan

Oleh: Dahlan Iskan Orang seperti apa yang lebih cocok memimpin lembaga keuangan:...

Catatan Dahlan Iskan

Agak Laen

Oleh: Dahlan Iskan Black Weekend. Panik. Serbasalah. Weekend kali ini agak lain. Bulan pertama...