Finnews.id – Gejolak di Timur Tengah mencapai titik didih pada awal Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara terbuka melayangkan gertakan maut kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam sebuah pernyataan yang menggetarkan panggung diplomasi internasional, Khamenei menegaskan Teheran tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya diusik.
Ancaman ini bukan sekadar retorika kosong. Khamenei memperingatkan setiap percikan api militer yang dimulai oleh Washington tidak akan berakhir sebagai konflik dua negara saja. Melainkan akan meluas menjadi perang skala regional yang menghancurkan.
“Mereka harus sadar sepenuhnya jika mereka berani menyulut api peperangan kali ini, maka yang akan terjadi adalah ledakan perang di seluruh kawasan,” tegas Khamenei dalam pidato berapi-api di jantung Kota Teheran.
Di tengah pengerahan armada militer AS yang kian masif di perairan Timur Tengah, Presiden Donald Trump justru menunjukkan sikap yang sangat kontras.
Menanggapi ancaman dari Teheran, Trump justru memberikan komentar bernada meremehkan namun penuh teka-teki. Bagi Trump, gertakan Khamenei adalah “lagu lama” yang sudah bisa ia tebak.
Meskipun tensi memanas, Trump mengklaim pintu negosiasi masih terbuka lebar untuk mencapai kesepakatan baru yang lebih menguntungkan pihak Barat.
Namun, ia juga memberikan peringatan terselubung yang cukup dingin.
“Tentu saja dia akan bicara seperti itu. Kita lihat saja nanti, semoga ada kesepakatan. Jika buntu, saat itulah kita akan membuktikan apakah klaimnya benar atau hanya gertakan belaka,” ujar Trump kepada media.
Iran Tuduh Demo Pesanan Washington
Selain ancaman militer, Khamenei juga membedah kondisi internal negaranya yang belakangan diguncang gelombang protes berdarah.
Dengan nada tajam, sang pemimpin yang telah berkuasa selama hampir empat dekade ini menyamakan kerusuhan tersebut dengan upaya kudeta yang gagal.
Khamenei menuding para demonstran bukan sekadar menyuarakan aspirasi, melainkan sengaja menargetkan simbol-simbol vital negara.