finnews.id – Baru‑baru ini Liga Super China menjadi sorotan dunia setelah otoritas sepak bola China menjatuhkan sanksi berat kepada tiga belas klub profesional. Langkah ini diambil setelah penyelidikan panjang terkait praktik match‑fixing, perjudian, dan bentuk korupsi lain di ranah sepak bola negara tersebut. Menurut laporan dari BBC Sport tentang Thirteen clubs punished for match‑fixing in China, sejumlah tim harus menerima pengurangan poin dan denda finansial sebelum musim kompetisi terbaru dimulai. Kasus ini bukan hanya berdampak pada posisi di klasemen, tetapi juga memicu diskusi internasional tentang integritas olahraga profesional.
Kronologi Investigasi dan Sanksi
Investigasi yang dilakukan otoritas China menyasar kegiatan tidak sah yang melibatkan pemain, pelatih, staf klub, dan berbagai pihak terkait industri sepak bola. Hasilnya, tiga belas klub diketahui melakukan transaksi dan tindakan yang dinilai merusak prinsip kompetisi yang adil. Akibatnya, pengurangan poin diberlakukan sebelum musim baru dimulai untuk sembilan tim, sementara empat lainnya sudah lebih dulu terdegradasi ke kasta di bawahnya, yaitu China League One.
Shanghai Shenhua, klub yang musim lalu finis sebagai runner‑up Liga Super, mengalami dampak paling besar dengan pengurangan sepuluh poin – sama besar dengan hukuman yang diterima Tianjin Tigers. Dengan pemotongan poin ini, kedua klub itu langsung memulai musim dalam posisi jauh tertinggal dibanding pesaing yang lain. Sanksi finansial juga diterapkan kepada klub‑klub yang terlibat dengan denda antara dua ratus ribu hingga satu juta yuan, yang menurut konversi BBC Sport setara dengan puluhan ribu poundsterling.
Tujuan Penegakan Disiplin
Otoritas sepak bola China menyatakan bahwa tujuan dari sanksi ini adalah untuk menegakkan disiplin industri, membersihkan lingkungan sepak bola, dan memastikan kompetisi berjalan secara adil. Pernyataan resmi yang dikutip oleh BBC Sport menyatakan bahwa “pengurangan poin dan denda finansial yang diterapkan pada klub‑klub didasarkan pada jumlah, sifat, tingkat keseriusan, dan dampak sosial dari transaksi tidak semestinya yang dilakukan masing‑masing klub.” Kalimat ini menegaskan bahwa otoritas tidak hanya menilai pelanggaran secara administratif, tetapi juga mempertimbangkan efek sosial dari tindakan yang dilakukan klub.
Skandal ini terjadi di tengah upaya yang lebih luas untuk mereformasi sepak bola profesional di China, di mana pemerintah dan asosiasi lokal berusaha membangun reputasi yang lebih kuat bagi kompetisi domestik. Ketika praktik seperti pengaturan skor dan perjudian merusak kepercayaan publik, langkah tegas seperti yang diambil dalam kasus ini dipandang perlu untuk mengembalikan legitimasi olahraga dan menarik kembali minat penonton serta sponsor.