fin.co.id – Kepergian Casemiro dari Manchester United menjadi titik penting dalam upaya klub merapikan kondisi keuangan yang selama bertahun-tahun dianggap tidak sehat.
Gelandang asal Brasil itu tercatat sebagai pemain dengan gaji tertinggi di skuad, menerima bayaran sekitar £375.000 per pekan.
Dengan tidak diaktifkannya opsi perpanjangan kontrak satu tahun, United kini memiliki ruang finansial yang jauh lebih longgar untuk menyusun ulang strategi jangka menengah dan panjang.
Keputusan tersebut sejatinya bukan hal mendadak. Di tengah spekulasi eksternal mengenai masa depan Casemiro, sumber internal klub menyebutkan bahwa manajemen sudah lama memutuskan untuk tidak melanjutkan kontraknya.
Kebijakan ini selaras dengan visi pemilik minoritas sekaligus pengendali operasional sepak bola klub, Sir Jim Ratcliffe, yang berulang kali menyoroti pembengkakan gaji sebagai warisan buruk era sebelumnya.
Ratcliffe, baik dalam pernyataan publik maupun pembicaraan internal, kerap menjadikan kontrak Casemiro sebagai contoh ekstrem dari kebijakan belanja yang tidak berkelanjutan.
Dalam pandangannya, mempertahankan pemain dengan gaji setinggi itu tidak sejalan dengan target menekan biaya operasional dan menyeimbangkan struktur upah di ruang ganti.
Fleksibilitas Keuangan untuk Regenerasi Skuad
Dengan hengkangnya Casemiro, Manchester United tidak hanya mengurangi beban gaji secara signifikan, tetapi juga memperoleh fleksibilitas dalam perencanaan transfer.
Dana yang sebelumnya terserap untuk satu pemain kini dapat dialokasikan ke beberapa posisi sekaligus, terutama di lini tengah yang menjadi fokus peremajaan.
Nama-nama seperti Elliott Anderson, Carlos Belaba, dan Adam Wharton disebut masuk dalam radar klub.
Ketiganya dinilai lebih muda, lebih ekonomis dari sisi gaji, serta cocok dengan arah pembangunan tim yang mengutamakan energi, mobilitas, dan nilai jangka panjang.
Kepergian Casemiro memberi United keleluasaan untuk bergerak tanpa tekanan finansial yang berlebihan.
Selain itu, keputusan ini juga mengirimkan sinyal kuat ke seluruh skuad bahwa era kontrak besar tanpa keseimbangan performa dan biaya mulai ditinggalkan.
Manajemen ingin memastikan struktur gaji lebih rasional, sehingga tidak menciptakan kecemburuan internal maupun beban berkepanjangan pada neraca keuangan klub.