finnews.id – Masakan khas Yogyakarta dikenal luas dengan cita rasa manis yang kuat. Gudeg, baceman, krecek, hingga tempe tahu kecap sering meninggalkan kesan legit di lidah. Bagi sebagian orang, rasa ini terasa unik dan khas, sementara bagi yang lain cukup mengejutkan. Lalu, mengapa masakan Jogja cenderung manis? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah, budaya, filosofi hidup, serta faktor alam yang membentuk karakter kuliner Yogyakarta.
Pengaruh Sejarah Kerajaan Mataram
Rasa manis dalam masakan Jogja berakar dari tradisi Kerajaan Mataram Islam. Di lingkungan keraton, makanan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan fisik, tetapi juga simbol kehalusan budi dan kemakmuran. Gula, khususnya gula kelapa, pada masa lalu merupakan bahan bernilai tinggi. Penggunaannya mencerminkan status sosial dan kesejahteraan kerajaan.
Resep-resep dapur keraton kemudian menyebar ke masyarakat luas. Proses ini membuat karakter rasa manis yang awalnya eksklusif menjadi bagian dari masakan rakyat sehari-hari.
Filosofi Hidup Orang Jawa
Budaya Jawa menjunjung tinggi harmoni, kesabaran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai ini tercermin dalam ungkapan seperti alon-alon asal kelakon dan urip iku kudu legawa. Filosofi tersebut juga memengaruhi selera makan.
Rasa manis dianggap lembut dan tidak agresif, berbeda dengan rasa pedas atau asam yang tajam. Karena itu, masakan manis dipandang selaras dengan karakter ideal masyarakat Jawa: halus, tenang, dan penuh keseimbangan.
Faktor Alam dan Ketersediaan Gula Kelapa
Secara geografis, wilayah Yogyakarta dan sekitarnya kaya akan pohon kelapa dan aren. Kondisi ini membuat gula kelapa mudah diperoleh dan digunakan secara luas. Tak hanya untuk jajanan tradisional, gula juga menjadi bumbu utama dalam masakan sehari-hari.
Gudeg menjadi contoh paling populer. Nangka muda dimasak selama berjam-jam bersama gula kelapa dan rempah hingga menghasilkan rasa manis yang meresap. Teknik memasak lambat ini semakin memperkuat cita rasa khas Jogja.
Adaptasi Selera Lokal
Masakan Jogja merupakan hasil adaptasi berbagai pengaruh budaya—Hindu-Buddha, Islam, hingga kolonial—yang kemudian disesuaikan dengan lidah lokal. Banyak hidangan yang di daerah lain cenderung gurih atau asin, di Jogja justru dimasak dengan tambahan gula.