finnews.id – Ketua Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), Jerome Powell, tengah menjadi sorotan publik setelah muncul laporan mengenai penyelidikan kriminal yang melibatkan dirinya. Isu ini memicu kontroversi luas karena menyangkut independensi bank sentral, sebuah pilar penting dalam sistem ekonomi Amerika Serikat.
Penyelidikan tersebut dikaitkan dengan dugaan ketidaksesuaian atau misrepresentasi informasi yang disampaikan Powell dalam kesaksiannya di hadapan Kongres, khususnya terkait proyek renovasi besar-besaran gedung Federal Reserve yang menelan biaya miliaran dolar. Dalam perkembangannya, Powell dilaporkan menerima subpoena dari grand jury, sebuah langkah hukum yang jarang—bahkan nyaris belum pernah—menimpa seorang Ketua The Fed.
Kekhawatiran Politisasi Hukum
Kasus ini memicu kekhawatiran di kalangan legislator Demokrat.
Senator Elizabeth Warren dan Dick Durbin secara terbuka mempertanyakan apakah penyelidikan tersebut murni penegakan hukum atau justru merupakan alat tekanan politik dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Federal Reserve, yang selama ini kerap berselisih dengan Gedung Putih soal kebijakan suku bunga.
Menurut Warren dan Durbin, ancaman penyelidikan kriminal terhadap pimpinan The Fed berpotensi melemahkan independensi lembaga moneter, sekaligus menciptakan preseden berbahaya bagi stabilitas ekonomi nasional dan kepercayaan pasar global.
Dampak terhadap Independensi The Fed
Federal Reserve dirancang sebagai lembaga independen agar kebijakan moneter tidak dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek. Oleh karena itu, penyelidikan terhadap Ketua The Fed—terlebih di tengah ketegangan politik—dinilai dapat mengguncang kepercayaan investor dan menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Jerome Powell sendiri menegaskan bahwa Federal Reserve akan tetap menjalankan mandatnya berdasarkan data ekonomi dan kepentingan jangka panjang, bukan tekanan politik. Hingga kini, belum ada dakwaan resmi yang dijatuhkan, dan penyelidikan masih berada pada tahap awal.