finnews.id – Latihan perang China di sekitar Taiwan telah meningkatkan ketegangan di kawasan itu. Hal itu diungkapkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Kamis, 1 Januari 2026.
AS juga menyerukan agar Beijing “menghentikan tekanan militernya” di Kawasan tersebut untuk mengurangi ketegangan.
“Aktivitas militer dan retorika China terhadap Taiwan dan negara-negara lain di kawasan itu meningkatkan ketegangan secara tidak perlu. Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan sebaliknya terlibat dalam dialog yang bermakna,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott.
“AS mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk dengan kekerasan atau paksaan,” kata Pigott.
China Luncurkan Rudal dan Puluhan Jet Tempur
Beijing meluncurkan rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, dan kapal penjaga pantai pada hari Senin dan Selasa untuk mengepung Taiwan.
Beijin mengatakan, latihan tersebut mensimulasikan blokade pelabuhan utama pulau yang berpemerintahan sendiri itu.
China mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencaploknya.
China kembali membela latihan militer tersebut sebagai “sah” pada hari Jumat, dan memperingatkan negara-negara untuk “berhenti menimbulkan masalah terkait isu Selat Taiwan”.
“Kami mendesak negara-negara dan lembaga-lembaga terkait untuk mematuhi prinsip satu-China secara ketat,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan China dalam sebuah pernyataan.
Latihan militer terbaru China merupakan putaran manuver besar keenam sejak tahun 2022, ketika kunjungan Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, ke Taiwan membuat Beijing marah.